MAKALAH
HUBUNGAN
ANTROPOLOGI GIZI
dengan
Budaya Minum Teh Terhadap Status Gizi &
Contoh
Kasus Masalah Pangan
dan Gizi di Indonesia
Oleh
:
YANDRAWATI
12410018
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas
kehadirat Allah S.W.T karena berkat anugrah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul "Hubungan Antropologi Gizi dengan
Budaya Minum Teh Terhadap Status Gizi &Contoh
Kasus Masalah Pangan
dan Gizi di Indonesia".
Penulisan makalah ini
merupakan tugas mata kuliah Komunikasi Informasi dan Edukasi Gizi. Dalam kesempatan ini, penulis
mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen pengampu dan semua pihak yang telah
banyak mendukung penulis dalam penyusunan makalah ini.
Dalam
penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang penulis
miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan
demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat dan berguna bagi pembaca.
Bandar Lampung, Maret 2015
Yandrawati
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar........................................................................................ i
Daftar Isi................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................. 2
1.3 Tujuan.................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Antropologi........................................................................... 3
a.
Pengertian
Antropologi................................................... 3
b.
Cabang
– cabang Ilmu Antropologi................................ 3
2.2
Gizi........................................................................................ 5
2.3 Hubungan Antara Antropologi dan Gizi............................... 6
2.4 Pengaruh Budaya Minum Teh
Terhadap Kasus Gizi............ 7
a.
Budaya
Minum Teh di Indonesia.................................... 7
b.
Pengaruh
teh terhadap asupan gizi.................................. 9
c.
Dampak
dari ketidak seimbangan status gizi.................. 9
d.
Langakah
agar gizi masarakat seimbang.......................... 10
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................ 11
3.2 Saran...................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pada zaman
sekarang banyak sekali orang yang kekurangan gizi atau mengalami gizi buruk. Masalah
ini sangat meresahkan sekali, karena asupan gizi itu penting sekali bagi
kelangsungan hidup manusia. Mengkonsumsi gizi yang baik dapat mencegah
penyakit, meningkatkan daya tahan tubuh sehingga bisa terhindar dari berbagai
penyakit dan tubuh menjadi sehat. Kekurangan gizi ini bisa diakibatkan oleh
panen yang gagal, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi itu sendiri,
dan bisa diakibatkan oleh kebiasaan-kebiasaan atau pantangan-pantangan yang
dianut atau dipercaya oleh suatu masyarakat, Pantangan tersebut misalnya tidak boleh memakan atau mengkonsumsi suatu
makanan yang justru mengandung banyak gizi.Selain itu, kebiasaan juga dapat
menimbulkan kurangnya asupan gizi, dimana orang kebiasaan makan atau minum
seseorang dapat mempengaruhi status gizi orang tersebut.
Adanya
masalah ini memotivasi penulis untuk menyusun makalah yang berjudul “HUBUNGAN
ANTROPOLOGI GIZI dengan Budaya Minum Teh Terhadap Status Gizi & Contoh
Kasus Masalah Pangan
dan Gizi di Indonesia”, untuk mengetahui secara
kebiasaan-kebiasaan suatu masyarakat dalam hubungannya dengan cara mengkonsumsi
makanan dan minuman. Hal ini diharapkan dapat memecahkan masalah atau
setidaknya dapat memberikan pengetahuan kepada kita tentang masalah kekurangan
gizi ini. Supaya kita dapat memperbaiki tentang masalah gizi ini, sehingga
dapat meningkatkan derajat kesehatan orang banyak.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan antropologi dan cabang-cabangnnya? sertaApa konsep
kebudayaan dalam antropologi ?
2.
Apa yang dimaksud dengan gizi ?
3.
Apa hubungan antara antropogi dengan gizi ?
4.
Apapengaruh budaya minum teh terhadap status gizi
seseorang?
5.
Bgaimana solusi yang dianjurkan untuk mengatasi
masalah kurangnya gizi yang berkaitan dengan budaya tersebut ?
6.
Apa Contoh
Kasus
Masalah Pangan dan Gizi di Indonesia ?
1.3
Tujuan
1.
Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan
antropologi dan gizi dan cabang-cabangnnya serta untuklebih memahami konsep kebudayaan dalam antropologi.
2.
Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan gizi.
3.
Untuk mengetahui hubungan antara antropologi dengan
gizi.
4.
Untuk mengetahui pengaruh budya masyarakat yang teh
terhadap status gizi mereka.
5.
Untuk mengetahui solusi yang bisa digunakan untuk
mengatasi masaalah tersebut.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Antropologi
a.
Pengertian Antropologi
Menurut
Drs.Ariyono Suyuno Antropologi berasal dari kata latin yaituAntropos
yang berarti manusia dan logos atau akal. Dengan begitu antropologi
dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang
makhluk manusia dengan masyarakat serta kebudayaan.Antropologi sosial adlah
suati cabang ilmu yang mempelajari sejumlah kebudayaan tadi dan akhirnya
merumuskan hukum – hukum yang berlaku umum untuk kepentingan manusia.
Kebudayaan adalah keseluruhan hasil daya budhi cipta,karya dan karsa manusia
yang diperguakan untuk memahami lingkungan sertapengalamannya agar menjadi
pedoman bagi tingkah lakunya sesuai dengan unsur – unsur universal didalamnya.
Antropologi
kesehatan adalah studi tentang pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan
masyarakat tentang penyakit dan kesehatan (Solita Sarwono, 1993). Tetapi
sekarang Antropologi juga mempelajari tingkah-laku manusia di tempat-tempat
umum seperti di restaurant, rumah-sakit dan ditempat-tempat bisnis modern
lainnya. Mereka juga tertarik dengan bentukbentukpemerintahan atau negara
modern yang ada sekarang ini samatertariknya ketika mereka mempelajari
bentuk-bentuk pemerintahan yang sederhana yang terjadi pada masa lampau atau
masih terjadi pada masyarakat-masyarakat di daerah yang terpencil.
b. Cabang-cabang
ilmu antropologi
Cabang-cabang
dalam Ilmu Antropologi Seperti ilmu-ilmu lain, Antropologi juga mempunyai
spesialisasi atau pengkhususan. Secara umum ada 3 bidang spesialisasi dari
Antropologi yaitu:
1. Antropologi
Fisik
Antropologi
Fisik tertarik pada sisi fisik dari manusia. Termasuk didalamnya mempelajari
gen-gen yang menentukan struktur dari tubuh manusia.
2. Arkeologi
Ahli
Arkeologi bekerja mencari benda-benda peninggalan manusia dari masa lampau. Mereka
akhirnya banyak melakukan penggalian untuk menemukan sisa-sisa peralatan hidup
atau senjata. Benda –benda ini adalah barang tambang mereka.Tujuannya adalah
menggunakan bukti-bukti yang mereka dapatkan untuk merekonstruksi atau
membentuk kembali modelmodel kehidupan pada masa lampau. Dengan melihat pada
bentuk kehidupan yang direnkonstruksi tersebut dapat dibuat dugaan-dugaan
bagaimana masyarakat yang sisa-sisanya diteliti itu hidup atau bagaimana mereka
datang ketempat itu atau bahkan dengan siapa saja mereka itu dulu berinteraksi.
3. Antropologi
Sosial-Budaya
Antropologi
Sosial-Budaya adalah Ilmu ini mempelajari tingkah-laku manusia, baik itu
tingkah-laku individu atau tingkah laku kelompok. Tingkah-laku yang dipelajari
disini bukan hanya kegiatan yang bisa diamati dengan mata saja, tetapi juga apa
yang ada dalam pikiran mereka.
4. Konsep
kebudayaan
Kebudayaan
menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku,
kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia
yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu. Seperti semua
konsep-konsep ilmiah, konsep kebudayaan berhubungan dengan beberapa aspek “di
luar sana” yang hendak diteliti oleh seorangilmuwan. Konsep-konsep kebudayaan
yang dibuat membantu peneliti dalam melakukan pekerjaannya sehingga ia tahu apa
yang harus dipelajari. Salah satu hal yang diperhatikan dalam penelitian
Antropologi adalah perbedaan dan persamaan mahluk manusia dengan mahluk bukan
manusia seperti simpanse atau orang-utan yang secara fisik banyak mempunyai
kesamaankesamaan.
2.2 Gizi
Gizi
merupakan zat yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh kita dan
untuk mengetahui tentang gizi ini kita harus lebih mendalam mempelajari tentang
gizi. Almatsier (2004 : 3) menyatakan ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari
segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata
“gizi” berasal dari bahasa Arab Ghidza, yang berarti “makanan”. Di satu sisi
ilmu gizi berkaitan dengan makanan dan di sisi lain dengan tubuh manusia.Menurut
Almatsier (2004 : 3) zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk
melakukan fungsinya yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara
jaringan, serta mengatur proses-proses jaringan. Dengan demikian, apabila kita
memilih makanan sehari-hari kita harus memilih dengan baik karena makanan yang
baik dapat memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal
tubuh.Jadi apabila kita memilih makanan, kita harus memilih makanan yang
mengandung zat gizi yang berfungsi seperti yang dikatakan oleh
Almatseir.zat-zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak,
dan protein. Oksidasi zat-zat gizi ini menghasilkan energi yang diperlukan
tubuh untuk melakukan kegiatan/aktivitas.Kegiatan tubuh yaitu untuk :
a.
Pertumbuhan dan pemelihara jaringan tubuh
menggunakan protein, mineral, dan air
adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu, diperlukan untuk membentuk
sel-sel baru, memelihara, dan mengganti sel-sel yang rusak.
b.
Mengatur proses tubuh menggunakan protein, mineral, air,
dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Protein mengatur
keseimbangan air di dalam sel, bertindak sebagai buffer dalam upaya memelihara
netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai pangkal organisme yang bersifat
infektif dan bahan-bahan asing yang dapat masuk ke dalam tubuh.
2.3 Hubungan
antara Antropologi dengan Gizi
Hubungan antropologi dengan gizi ini sangat erat.
Seseorang atau suatu kelompok masyarakat mengalami gizi buruk atau kekurangan
gizi bukan hanya karena masalah ekonomi, akan tetapi bisa juga diakibatkan oleh
kepercayaan atau budaya seseorang. Banyak sekali terdapat suatu kelompok
masyarakat yang mengalami gizi buruk dikarenakan mereka percaya kepada
kepercayaan atau kebudayaan mereka. Terkadang mereka mengalami gizi buruk
padahal ekonomi mereka mencukupi. Ini karena mereka tidak mau memakan makanan
yang seharusnya mereka makan karena mereka percaya kepada kebudayaan dan
kpercayaan mereka, padahal makanan tersebut mengandung banyak zat gizi yang
dibutuhkan tubuh. Hal ini menyebabkan banyaknya suatu kelompok masyarakat yang
kekurangan gizi, padahal dalam kelompok masyarakat itu terdapat cukup banyak
makanan yang mengandung gizi. Terkadang kecil sekali kemungkinan kita dapat
memperbaiki gizi disuatu daerah, jika
apa yang kita sarankan itu bertentangan dengan kebudayaan mereka. Mempelajari
ilmu antropologi kita akan mengetahui bagaimana menangani masalah kesehatan
atau kekurangan gizi suatu masyarakat serta dengan ilmu ini kita dapat
meyakinkan masyarakat tentang pentingnya kesehatan dan betapa pentingnya
makanan yang mengandung gizi untuk tubuh kita.
2.4 Contoh
kasus Masalah Pangan dan
Gizi di Indonesia
Salah satu masalah sosial yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya status
gizi masyarakat. Hal ini mudah dilihat, misalnya dari berbagai masalah gizi,
seperti kurang gizi, anemia gizi besi, gangguan akibat kekurangan yodium, dan
kurang vitamin A. Rendahnya status gizi jelas berdampak pada kualitas sumber
daya manusia. Oleh karena, status gizi memengaruhi kecerdasan, daya tahan tubuh
terhadap penyakit, kematian bayi, kematian ibu, dan produktivitas kerja. Indonesia harus menelan ”pil pahit” karena hanya sebagian kecil dari
penduduknya yang kebutuhan gizinya tercukupi. National Socio-Economic Survey
(Susenas) mencatat, pada tahun 1989 saja ada lebih dari empat juta penderita
gizi buruk adalah anak-anak di bawah usia dua tahun. Padahal menurut ahli gizi,
80 persen proses pembentukan otak berlangsung pada usia 0-2 tahun.
Dalam hal angka kematian bayi, Indonesia (31/1.000 kelahiran) hanya lebih
baik dibandingkan dengan Kamboja (97/1.000) dan Laos (82/1.000). Jika dibandingkan
dengan negara-negara lain, kita masih tertinggal. Singapura dan Malaysia
memiliki angka kematian bayi amat rendah, masing-masing 3 dan 7 per 1.000
kelahiran. Ini menunjukkan besarnya perhatian negara itu terhadap masalah gizi
dan kesehatan yang dihadapi anak-anak.
Ada sekitar 7,6 juta anak balita mengalami kekurangan gizi akibat
kekurangan kalori protein. Itu data yang dihimpun Susenas empat tahun lalu.
Bukan tidak mungkin saat ini jumlahnya meningkat tajam karena krisis ekonomi
yang berkepanjangan ditambah dengan masalah pangan yang sulit didapat. Bahkan
menurut United Nations Children’s Fund (Unicef) saat ini ada sekitar 40 persen
anak Indonesia di bawah usia lima tahun (balita) menderita gizi buruk.
Seorang anak yang pada usia balita kekurangan gizi akan mempunyai
Intellegent Quotient (IQ) lebih rendah 13-15 poin dari anak lain pada saat
memasuki sekolah. Perkembangan otak anak usia balita sangat ditentukan oleh
faktor makanan yang dikonsumsi. Zat gizi seperti protein, zat besi, berbagai
vitamin, termasuk asam lemak omega 3 adalah pendukung kecerdasan otak anak.
Zat-zat itu bisa didapat dari makanan sehari-hari seperti ikan, telur, susu,
sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan sebagainya. Singkatnya, pola makan seorang
anak haruslah bervariasi, tidak hanya satu atau dua jenis saja.
2.5 Pengaruh
Budaya Minum Teh terhadap Status Gizi
a. Budaya minum
teh di Indonesia
Tradisi minum teh telah menjadi kebudayaan besar dalam sejarah manusia.
Tercatat dalam beberapa kebudayaan, minum teh menjadi tradisi yang membutuhkan
keterampilan tersendiri untuk menyajikannya. Di indonesia teh pertama kali
dikenal pada tahun 1686, yaitu ketika Dr. Andreas Cleyer yang berkebangsaan
Belanda membawa tanaman ini ke Indonesia sebagai tanaman hias. Pada tahun 1728
pemerintah Belanda mulai membudidayakan tanaman ini terutama di pulau Jawa-
dengan mendatangkan biji-biji teh dari China. Semenjak itu dimulailah kebiasaan
untuk minum teh.
Teh menjadi
sedemikian berakar dalam kehidupan masyarakat indonesia, bahkan rakyat jawa
mempunyai filsafat teh. Teh adalah salah satu minuman yang tidak asing di
Indonesia. Minuman ini bisa didapatkan di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Seperti di kota Jogja. Setiap malam, terutama sepanjang jalan Malioboro, akan
terlihat banyak sekali tempat-tempat minum teh yang biasa disebut
“angkringan“. Masyarakat dari berbagai
kalangan dan status sosial seperti pengemudi becak, pedagang asongan, seniman
dan pelajar/mahasiswa, tak segan-segan berkumpul dan mengobrol dengan santainya
di tempat ini. Angkringan ini awalnya hanya tempat untuk minum teh sambil
mengaso, tetapi pada perkembangannya, angkringan juga berfungsi sebagai warung
makan sekaligus tempat bersantai. Walaupun sudah tersedia aneka macam makanan
dan minuman, “wedang teh” tetap menjadi menu utama dari angkringan ini. Minuman teh yang menjadi favorit para
pengunjung adalah “Nasgitel”, kepanjangan dari panas-legi-kenthel atau
panas-manis dan kental”. enis teh yang dihidangkan dan cara meminumnya pun agak
berbeda, Nasgitel menggunakan “teh merah” atau “teh hitam” yang dipadu dengan
“gula batu” yang sangat manis. Penyajiannya biasanya berupa kotokan (daun teh
kering) yang diseduh dengan air mendidih, disajikan dalam gelas plus beberapa
butir gula batu yang disajikan terpisah. Setelah seduhan teh dihidangkan,
pelanggan biasanya segera memasukkan gula batu kedalamnya. Proses ini sampai
dengan wedang teh siap diminum memerlukan waktu sekitar 10 menit, sambil
menunggu biasanya pelanggan akan menikmati makanan kecil seperti ketela goreng,
pisang goreng, singkong rebus dan lain sebagainya.
Demikian
juga mengenai kebiasaan minum teh di tataran Sunda. Dahulu, mereka meminum teh
memakai mangkok dari batok kelapa dan tatakan dari bambu sambil menghangatkan
badan di dekat perapian. Kebiasaan ini biasa disebut sebagai “nganyeut”.
Sedangkan di wilayah Jawa Timur khususnya Surabaya, walaupun di daerah
Lawang-Wonoasri Jatim terdapat berhektar-hektar kebun teh, minuman ini masih
dianggap sesuatu yang mewah untuk menyuguhi tamu. Dan sampai saat ini, jika teh
disajikan tanpa gula adalah minuman aneh, tidak mengherankan jika teh hijau
kemasan yang non sugar di supermarket- supermarket di Surabaya selalu rapi tak
tersentuh.
Jika dilihat
dari nilai filosofi, sosial, agama dan seni, kebiasaan minum teh di masyarakat
kita tidak bisa di sepadankan dengan budaya Jepang dan China. Untuk mereka,
minum teh adalah satu seni yang mempunyai banyak sekali aturan dan tata cara
yang harus dilalui. Sebenarnya, cara meminum teh di Indonesia yang menggunakan
Poci tanah liat (Teh Poci), juga memiliki nilai lebih, karena didalamnya juga
mengandung filosofi. Hanya saja kebiasaan ini memang belum memberikan apresiasi
lebih terhadap teh itu sendiri.
b. Pengaruh teh
terhadap asupan gizi
Kekurangan asupan zat gizi merupakan penyebab terjadinya
anemia, selain itu ada faktor lain yaitu gangguan penyerapan zat besi yang
berasal dari kebiasaan minum teh. Berdasarkan penelitian Besral dkk (2007),
bahwa 49% responden memiliki kebiasaan minum teh tiap hari sehingga beresiko
menderita anemia. Tanin yang terdapat di dalam teh merupakan penghambat
penyerapan zat besi. Penyerapan zat besi sangat dipengaruhi oleh kombinasi
makanan yang diserap pada waktu makan makanan tertentu, terutama teh kental
yang akan menimbulkan pengaruh penghambatan yang nyata pada penyerapan zat besi
(Soehardi, 2004).
Senyawa
tanin dari teh yang berlebihan dalam darah akan mengganggu penyerapan zat besi.
Tubuh kekurangan zat besi maka pembentukan butir darah merah (hemoglobin)
berkurang sehingga mengakibatkan anemia. Pengaruh pengahambatan tanin dapat
dihindarkan dengan cara tidak minum teh setelah selesai makan agar tidak
mengganggu penyerapan zat besi (de Maeyer, 1995). Menurut data Head of
Researcher Brand Research, teh merupakan salah satu minuman yang paling
populer di dunia. Indonesia merupakan negara penghasil teh terbesar keenam di
dunia dengan tingkat konsumsi teh orang Indonesia mencapai 0.8 kg/kapita/tahun
(Machmud, 2006).
c. Dampak dari Ketidak Seimbangan Status Gizi
Berikut ini beberapa analisa risiko yang bisa terjadi:
1.
Menurunnya kemampuan
belajar/berfikir
2.
Menurunnya pertumbuhan, kemampuan
fisik dan ketahanan tubuh rentan
3.
Ancaman malnutrisi dan penyakit
d.
Langkah-langkah
yang Harus Dilakukan Agar Masyarakat Mempunyai Gizi Seimbang
Penanggulangan kemiskinan
membutuhkan upaya yang terus menerus karena kompleksnya permasalahan dan
keterbatasan sumber daya. Karena itu harus melibatkan multi sektor dan lintas
stakeholder terkait. Rendahnya kemampuan ekonomi sebuah rumah tangga sangat miskin
(RTSM) membawa dampak pada buruknya kualitas nutrisi dan gizi, serta
menyebabkan banyak anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pelajarannya di
bangku sekolah. langkah
sederhana dan mungkin dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, guna mendeteksi
masalah gizi agar tidak sampai
terjadi pada diri kita dengan cara:
1.
Biasakan
menimbang berat badan minimal satu bulan sekali, lebih biak lagi tiap minggu.
2.
Melakukan
evaluasi yang telah kita makan satu hari --lebih baik tiga hari-dapat dilakukan
dengan mencatat (food record), atau mengingat yang telah dimakan food recall.
3.
Makan
secukupnya. Artinya: makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, makan
dengan porsi kecil tapi sering lebih baik dibanding sekali makan dengan porsi
banyak.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari makalah di atas dapat di
ambil kesimpulan sebagai berikut :
1.
masalah sosial
yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya status gizi masyarakat. Hal ini mudah
dilihat, misalnya dari berbagai masalah gizi, seperti kurang gizi, anemia gizi
besi, gangguan akibat kekurangan yodium, dan kurang vitamin A. Rendahnya status
gizi jelas berdampak pada kualitas sumber daya manusia
2.
Konsumsi zat
gizi yang rendah dalam keluarga juga dipengaruhi oleh produksi pangan.
3.
Konsumsi
makanan yang rendah juga bias disebabkan oleh penyakit, terutama penyakit
infeksi pada saluran pencernaan.
4.
Infornasi
kesehatan dan pendididkan penting untuk meningkatkan pelayanan.
5.
Rendahnya
status gizi berdampak pada kualitas sumber daya manusia.
6.
Banyak keluarga
yang masih tidak peduli terhadap asupan kandungan gizi yang dikonsumsi oleh
anak-anaknya.
7.
Tradisi minum teh telah menjadi kebudayaan
besar dalam sejarah manusia, padahal Senyawa tanin dari teh
yang berlebihan dalam darah akan mengganggu penyerapan zat besi.
3.2 SARAN
Status gizi masyarakat Indonesia
yang buruk harus segera ditemukan jalan keluarnya. Tidak hanya pemerintah saja
tetapi seluruh elemen masyarakat berkewajiban membantu sesama manusia yang
mengalami gizi buruk. Agar permasalahan ini tidak menimbulkan gangguan dalam
tatanan kehidupan bernegara.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2012.Obesitas.http://www.susukolostrum.com/data-
penyakit/gangguannutrisi-danmetabolisme/obesitas.html. Di akses 28 Oktober 2012.
Anonim.2012.Pengaruh
badan dan hormon.
http://meetdoctor.com/article/pengaruh-berat-
badan-dan-hormon.Di akses 28
Oktober 2012.
Colby, S
Diane. 1988. Ringkasan Biokimia Harper. EGC : Jakarta.
Harianto,Yudika.
2011. Oksidasi Asam Lemak.
Mulligan, K dkk.2009. The effects of recombinant human
leptin on visceral fat,
dyslipidemia,
and insulin resistance in patients with human immunodeficiency virus-
associated lipoatrophy and hypoleptinemia. Journal of Clinical Endocrinology
and Metabolism 94(4): 1137-1144.
Poedjiadi,Anna
DKK.2006.Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta:Universitas Indonesia
(UI-Press).
Sartika
,Ratu Ayu Dewi.2011.FAKTOR RISIKO OBESITAS PADA ANAK 5-15
TAHUN DI INDONESIA. Jurnal MAKARA,
KESEHATAN.15:37-43.(journal.ui.ac.id)
Sukeksi
,Andri dan Herlisa Anggraini.(2009). Kadar Kolesterol Darah Pada
Penderita Kelurahan KORPRI Sambiroto Semarang.Jurnal
Kesehatan.2:26-29.(http ://J u rna I. u
n im us.ac.id.)
http://dwi7retnoyulianti.blogspot.com/2013/04/hubungan-budaya-minum-teh-
dengan-status.html 21:19 17 03
2015
Bangun
Bermila Emma, Zulhaida Lubis, Albiner Siagian. 2012.
“Perilaku Minum
Teh Dan Kadar Hemoglobin (Hb) Pada Siswa-Siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri
1 Jorlang Hataran Desa Dolok Marlawan Kecamatan Jorlang Kabupaten
Simalungun Tahun 2012” dalam http://download.portalgaruda.org/article.php?article=51409&val=4108 akses tanggal
19 maret 2015
mempengaruhi.html
Follow@yandrawati1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar