my music by Ron Pope

please send an instant message to me via yahoo!

Jumat, 20 Maret 2015

HUBUNGAN ANTROPOLOGI GIZI dengan Budaya Minum Teh Terhadap Status Gizi & Contoh Kasus Masalah Pangan dan Gizi di Indonesia



MAKALAH
HUBUNGAN ANTROPOLOGI GIZI
dengan Budaya Minum Teh Terhadap Status Gizi &
Contoh Kasus Masalah Pangan dan Gizi di Indonesia






Oleh :


YANDRAWATI

12410018






FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2015
 





KATA PENGANTAR
  
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah S.W.T karena berkat anugrah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul "Hubungan Antropologi Gizi dengan Budaya Minum Teh Terhadap Status Gizi &Contoh Kasus Masalah Pangan dan Gizi di Indonesia".
Penulisan makalah ini merupakan tugas mata kuliah Komunikasi Informasi dan Edukasi Gizi. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen pengampu dan semua pihak yang telah banyak mendukung penulis dalam penyusunan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan berguna bagi pembaca.






Bandar Lampung, Maret 2015



                                                                        Yandrawati




DAFTAR ISI

                                                                                                                   Halaman
Kata Pengantar........................................................................................        i
Daftar Isi.................................................................................................         ii
BAB I PENDAHULUAN
            1.1 Latar Belakang......................................................................        1
            1.2 Rumusan Masalah..................................................................       2
            1.3 Tujuan....................................................................................        2
BAB II PEMBAHASAN
            2.1 Antropologi...........................................................................         3

a.    Pengertian Antropologi...................................................          3
b.    Cabang – cabang Ilmu Antropologi................................          3
2.2  Gizi........................................................................................          5
2.3 Hubungan Antara Antropologi dan Gizi...............................          6
            2.4 Pengaruh Budaya Minum Teh Terhadap Kasus Gizi............          7
a.       Budaya Minum Teh di Indonesia....................................          7
b.      Pengaruh teh terhadap asupan gizi..................................          9
c.       Dampak dari ketidak seimbangan status gizi..................          9
d.      Langakah agar gizi masarakat seimbang..........................        10

BAB III PENUTUP
            3.1 Kesimpulan............................................................................          11
            3.2 Saran......................................................................................          12
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang
Pada zaman sekarang banyak sekali orang yang kekurangan gizi atau mengalami gizi buruk. Masalah ini sangat meresahkan sekali, karena asupan gizi itu penting sekali bagi kelangsungan hidup manusia. Mengkonsumsi gizi yang baik dapat mencegah penyakit, meningkatkan daya tahan tubuh sehingga bisa terhindar dari berbagai penyakit dan tubuh menjadi sehat. Kekurangan gizi ini bisa diakibatkan oleh panen yang gagal, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi itu sendiri, dan bisa diakibatkan oleh kebiasaan-kebiasaan atau pantangan-pantangan yang dianut atau dipercaya oleh suatu masyarakat, Pantangan tersebut misalnya  tidak boleh memakan atau mengkonsumsi suatu makanan yang justru mengandung banyak gizi.Selain itu, kebiasaan juga dapat menimbulkan kurangnya asupan gizi, dimana orang kebiasaan makan atau minum seseorang dapat mempengaruhi status gizi orang tersebut.
Adanya masalah ini memotivasi penulis untuk menyusun makalah yang berjudul “HUBUNGAN ANTROPOLOGI GIZI dengan Budaya Minum Teh Terhadap Status Gizi & Contoh Kasus Masalah Pangan dan Gizi di Indonesia”, untuk mengetahui secara kebiasaan-kebiasaan suatu masyarakat dalam hubungannya dengan cara mengkonsumsi makanan dan minuman. Hal ini diharapkan dapat memecahkan masalah atau setidaknya dapat memberikan pengetahuan kepada kita tentang masalah kekurangan gizi ini. Supaya kita dapat memperbaiki tentang masalah gizi ini, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan orang banyak.





1.2              Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan antropologi  dan cabang-cabangnnya? sertaApa konsep kebudayaan dalam antropologi ?
2.      Apa yang dimaksud dengan gizi ?
3.      Apa hubungan antara antropogi dengan gizi ?
4.      Apapengaruh budaya minum teh terhadap status gizi seseorang?
5.      Bgaimana solusi yang dianjurkan untuk mengatasi masalah kurangnya gizi yang berkaitan dengan budaya tersebut ?
6.      Apa Contoh Kasus Masalah Pangan dan Gizi di Indonesia ?

1.3              Tujuan
1.      Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan antropologi dan gizi dan cabang-cabangnnya serta untuklebih  memahami konsep kebudayaan dalam antropologi.
2.      Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan gizi.
3.      Untuk mengetahui hubungan antara antropologi dengan gizi.
4.      Untuk mengetahui pengaruh budya masyarakat yang teh terhadap status gizi  mereka.
5.      Untuk mengetahui solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi masaalah tersebut.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Antropologi
a.      Pengertian Antropologi
Menurut Drs.Ariyono Suyuno Antropologi berasal dari kata latin yaituAntropos yang berarti manusia dan logos atau akal. Dengan begitu antropologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang makhluk manusia dengan masyarakat serta kebudayaan.Antropologi sosial adlah suati cabang ilmu yang mempelajari sejumlah kebudayaan tadi dan akhirnya merumuskan hukum – hukum yang berlaku umum untuk kepentingan manusia. Kebudayaan adalah keseluruhan hasil daya budhi cipta,karya dan karsa manusia yang diperguakan untuk memahami lingkungan sertapengalamannya agar menjadi pedoman bagi tingkah lakunya sesuai dengan unsur – unsur universal didalamnya.
Antropologi kesehatan adalah studi tentang pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan (Solita Sarwono, 1993). Tetapi sekarang Antropologi juga mempelajari tingkah-laku manusia di tempat-tempat umum seperti di restaurant, rumah-sakit dan ditempat-tempat bisnis modern lainnya. Mereka juga tertarik dengan bentukbentukpemerintahan atau negara modern yang ada sekarang ini samatertariknya ketika mereka mempelajari bentuk-bentuk pemerintahan yang sederhana yang terjadi pada masa lampau atau masih terjadi pada masyarakat-masyarakat di daerah yang terpencil.
b.      Cabang-cabang ilmu antropologi
Cabang-cabang dalam Ilmu Antropologi Seperti ilmu-ilmu lain, Antropologi juga mempunyai spesialisasi atau pengkhususan. Secara umum ada 3 bidang spesialisasi dari Antropologi yaitu:
1.      Antropologi Fisik
Antropologi Fisik tertarik pada sisi fisik dari manusia. Termasuk didalamnya mempelajari gen-gen yang menentukan struktur dari tubuh manusia.
2.      Arkeologi
Ahli Arkeologi bekerja mencari benda-benda peninggalan manusia dari masa lampau. Mereka akhirnya banyak melakukan penggalian untuk menemukan sisa-sisa peralatan hidup atau senjata. Benda –benda ini adalah barang tambang mereka.Tujuannya adalah menggunakan bukti-bukti yang mereka dapatkan untuk merekonstruksi atau membentuk kembali modelmodel kehidupan pada masa lampau. Dengan melihat pada bentuk kehidupan yang direnkonstruksi tersebut dapat dibuat dugaan-dugaan bagaimana masyarakat yang sisa-sisanya diteliti itu hidup atau bagaimana mereka datang ketempat itu atau bahkan dengan siapa saja mereka itu dulu berinteraksi.
3.      Antropologi Sosial-Budaya
Antropologi Sosial-Budaya adalah Ilmu ini mempelajari tingkah-laku manusia, baik itu tingkah-laku individu atau tingkah laku kelompok. Tingkah-laku yang dipelajari disini bukan hanya kegiatan yang bisa diamati dengan mata saja, tetapi juga apa yang ada dalam pikiran mereka.
4.      Konsep kebudayaan
Kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu. Seperti semua konsep-konsep ilmiah, konsep kebudayaan berhubungan dengan beberapa aspek “di luar sana” yang hendak diteliti oleh seorangilmuwan. Konsep-konsep kebudayaan yang dibuat membantu peneliti dalam melakukan pekerjaannya sehingga ia tahu apa yang harus dipelajari. Salah satu hal yang diperhatikan dalam penelitian Antropologi adalah perbedaan dan persamaan mahluk manusia dengan mahluk bukan manusia seperti simpanse atau orang-utan yang secara fisik banyak mempunyai kesamaankesamaan.
2.2  Gizi
Gizi merupakan zat yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh kita dan untuk mengetahui tentang gizi ini kita harus lebih mendalam mempelajari tentang gizi. Almatsier (2004 : 3) menyatakan ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata “gizi” berasal dari bahasa Arab Ghidza, yang berarti “makanan”. Di satu sisi ilmu gizi berkaitan dengan makanan dan di sisi lain dengan tubuh manusia.Menurut Almatsier (2004 : 3) zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses jaringan. Dengan demikian, apabila kita memilih makanan sehari-hari kita harus memilih dengan baik karena makanan yang baik dapat memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh.Jadi apabila kita memilih makanan, kita harus memilih makanan yang mengandung zat gizi yang berfungsi seperti yang dikatakan oleh Almatseir.zat-zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Oksidasi zat-zat gizi ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh untuk melakukan kegiatan/aktivitas.Kegiatan tubuh yaitu untuk :
a.    Pertumbuhan dan pemelihara jaringan tubuh menggunakan  protein, mineral, dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu, diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara, dan mengganti sel-sel yang rusak.
b.    Mengatur proses tubuh menggunakan protein, mineral, air, dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Protein mengatur keseimbangan air di dalam sel, bertindak sebagai buffer dalam upaya memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai pangkal organisme yang bersifat infektif dan bahan-bahan asing yang dapat masuk ke dalam tubuh.
2.3  Hubungan antara Antropologi dengan Gizi
Hubungan antropologi dengan gizi ini sangat erat. Seseorang atau suatu kelompok masyarakat mengalami gizi buruk atau kekurangan gizi bukan hanya karena masalah ekonomi, akan tetapi bisa juga diakibatkan oleh kepercayaan atau budaya seseorang. Banyak sekali terdapat suatu kelompok masyarakat yang mengalami gizi buruk dikarenakan mereka percaya kepada kepercayaan atau kebudayaan mereka. Terkadang mereka mengalami gizi buruk padahal ekonomi mereka mencukupi. Ini karena mereka tidak mau memakan makanan yang seharusnya mereka makan karena mereka percaya kepada kebudayaan dan kpercayaan mereka, padahal makanan tersebut mengandung banyak zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Hal ini menyebabkan banyaknya suatu kelompok masyarakat yang kekurangan gizi, padahal dalam kelompok masyarakat itu terdapat cukup banyak makanan yang mengandung gizi. Terkadang kecil sekali kemungkinan kita dapat memperbaiki gizi disuatu  daerah, jika apa yang kita sarankan itu bertentangan dengan kebudayaan mereka. Mempelajari ilmu antropologi kita akan mengetahui bagaimana menangani masalah kesehatan atau kekurangan gizi suatu masyarakat serta dengan ilmu ini kita dapat meyakinkan masyarakat tentang pentingnya kesehatan dan betapa pentingnya makanan yang mengandung gizi untuk tubuh kita.
2.4  Contoh kasus Masalah Pangan dan Gizi di Indonesia
Salah satu masalah sosial yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya status gizi masyarakat. Hal ini mudah dilihat, misalnya dari berbagai masalah gizi, seperti kurang gizi, anemia gizi besi, gangguan akibat kekurangan yodium, dan kurang vitamin A. Rendahnya status gizi jelas berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Oleh karena, status gizi memengaruhi kecerdasan, daya tahan tubuh terhadap penyakit, kematian bayi, kematian ibu, dan produktivitas kerja. Indonesia harus menelan ”pil pahit” karena hanya sebagian kecil dari penduduknya yang kebutuhan gizinya tercukupi. National Socio-Economic Survey (Susenas) mencatat, pada tahun 1989 saja ada lebih dari empat juta penderita gizi buruk adalah anak-anak di bawah usia dua tahun. Padahal menurut ahli gizi, 80 persen proses pembentukan otak berlangsung pada usia 0-2 tahun.
Dalam hal angka kematian bayi, Indonesia (31/1.000 kelahiran) hanya lebih baik dibandingkan dengan Kamboja (97/1.000) dan Laos (82/1.000). Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kita masih tertinggal. Singapura dan Malaysia memiliki angka kematian bayi amat rendah, masing-masing 3 dan 7 per 1.000 kelahiran. Ini menunjukkan besarnya perhatian negara itu terhadap masalah gizi dan kesehatan yang dihadapi anak-anak.
Ada sekitar 7,6 juta anak balita mengalami kekurangan gizi akibat kekurangan kalori protein. Itu data yang dihimpun Susenas empat tahun lalu. Bukan tidak mungkin saat ini jumlahnya meningkat tajam karena krisis ekonomi yang berkepanjangan ditambah dengan masalah pangan yang sulit didapat. Bahkan menurut United Nations Children’s Fund (Unicef) saat ini ada sekitar 40 persen anak Indonesia di bawah usia lima tahun (balita) menderita gizi buruk.
Seorang anak yang pada usia balita kekurangan gizi akan mempunyai Intellegent Quotient (IQ) lebih rendah 13-15 poin dari anak lain pada saat memasuki sekolah. Perkembangan otak anak usia balita sangat ditentukan oleh faktor makanan yang dikonsumsi. Zat gizi seperti protein, zat besi, berbagai vitamin, termasuk asam lemak omega 3 adalah pendukung kecerdasan otak anak. Zat-zat itu bisa didapat dari makanan sehari-hari seperti ikan, telur, susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan sebagainya. Singkatnya, pola makan seorang anak haruslah bervariasi, tidak hanya satu atau dua jenis saja.
2.5  Pengaruh Budaya Minum Teh terhadap Status Gizi
a.      Budaya minum teh di Indonesia
Tradisi minum teh telah menjadi kebudayaan besar dalam sejarah manusia. Tercatat dalam beberapa kebudayaan, minum teh menjadi tradisi yang membutuhkan keterampilan tersendiri untuk menyajikannya. Di indonesia teh pertama kali dikenal pada tahun 1686, yaitu ketika Dr. Andreas Cleyer yang berkebangsaan Belanda membawa tanaman ini ke Indonesia sebagai tanaman hias. Pada tahun 1728 pemerintah Belanda mulai membudidayakan tanaman ini terutama di pulau Jawa- dengan mendatangkan biji-biji teh dari China. Semenjak itu dimulailah kebiasaan untuk minum teh.
Teh menjadi sedemikian berakar dalam kehidupan masyarakat indonesia, bahkan rakyat jawa mempunyai filsafat teh. Teh adalah salah satu minuman yang tidak asing di Indonesia. Minuman ini bisa didapatkan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Seperti di kota Jogja. Setiap malam, terutama sepanjang jalan Malioboro, akan terlihat banyak sekali tempat-tempat minum teh yang biasa disebut “angkringan“.  Masyarakat dari berbagai kalangan dan status sosial seperti pengemudi becak, pedagang asongan, seniman dan pelajar/mahasiswa, tak segan-segan berkumpul dan mengobrol dengan santainya di tempat ini. Angkringan ini awalnya hanya tempat untuk minum teh sambil mengaso, tetapi pada perkembangannya, angkringan juga berfungsi sebagai warung makan sekaligus tempat bersantai. Walaupun sudah tersedia aneka macam makanan dan minuman, “wedang teh” tetap menjadi menu utama dari angkringan ini.  Minuman teh yang menjadi favorit para pengunjung adalah “Nasgitel”, kepanjangan dari panas-legi-kenthel atau panas-manis dan kental”. enis teh yang dihidangkan dan cara meminumnya pun agak berbeda, Nasgitel menggunakan “teh merah” atau “teh hitam” yang dipadu dengan “gula batu” yang sangat manis. Penyajiannya biasanya berupa kotokan (daun teh kering) yang diseduh dengan air mendidih, disajikan dalam gelas plus beberapa butir gula batu yang disajikan terpisah. Setelah seduhan teh dihidangkan, pelanggan biasanya segera memasukkan gula batu kedalamnya. Proses ini sampai dengan wedang teh siap diminum memerlukan waktu sekitar 10 menit, sambil menunggu biasanya pelanggan akan menikmati makanan kecil seperti ketela goreng, pisang goreng, singkong rebus dan lain sebagainya.
Demikian juga mengenai kebiasaan minum teh di tataran Sunda. Dahulu, mereka meminum teh memakai mangkok dari batok kelapa dan tatakan dari bambu sambil menghangatkan badan di dekat perapian. Kebiasaan ini biasa disebut sebagai “nganyeut”. Sedangkan di wilayah Jawa Timur khususnya Surabaya, walaupun di daerah Lawang-Wonoasri Jatim terdapat berhektar-hektar kebun teh, minuman ini masih dianggap sesuatu yang mewah untuk menyuguhi tamu. Dan sampai saat ini, jika teh disajikan tanpa gula adalah minuman aneh, tidak mengherankan jika teh hijau kemasan yang non sugar di supermarket- supermarket di Surabaya selalu rapi tak tersentuh.
Jika dilihat dari nilai filosofi, sosial, agama dan seni, kebiasaan minum teh di masyarakat kita tidak bisa di sepadankan dengan budaya Jepang dan China. Untuk mereka, minum teh adalah satu seni yang mempunyai banyak sekali aturan dan tata cara yang harus dilalui. Sebenarnya, cara meminum teh di Indonesia yang menggunakan Poci tanah liat (Teh Poci), juga memiliki nilai lebih, karena didalamnya juga mengandung filosofi. Hanya saja kebiasaan ini memang belum memberikan apresiasi lebih terhadap teh itu sendiri.
b.      Pengaruh teh terhadap asupan gizi
Kekurangan asupan zat gizi merupakan penyebab terjadinya anemia, selain itu ada faktor lain yaitu gangguan penyerapan zat besi yang berasal dari kebiasaan minum teh. Berdasarkan penelitian Besral dkk (2007), bahwa 49% responden memiliki kebiasaan minum teh tiap hari sehingga beresiko menderita anemia. Tanin yang terdapat di dalam teh merupakan penghambat penyerapan zat besi. Penyerapan zat besi sangat dipengaruhi oleh kombinasi makanan yang diserap pada waktu makan makanan tertentu, terutama teh kental yang akan menimbulkan pengaruh penghambatan yang nyata pada penyerapan zat besi (Soehardi, 2004).
Senyawa tanin dari teh yang berlebihan dalam darah akan mengganggu penyerapan zat besi. Tubuh kekurangan zat besi maka pembentukan butir darah merah (hemoglobin) berkurang sehingga mengakibatkan anemia. Pengaruh pengahambatan tanin dapat dihindarkan dengan cara tidak minum teh setelah selesai makan agar tidak mengganggu penyerapan zat besi (de Maeyer, 1995). Menurut data Head of Researcher Brand Research, teh merupakan salah satu minuman yang paling populer di dunia. Indonesia merupakan negara penghasil teh terbesar keenam di dunia dengan tingkat konsumsi teh orang Indonesia mencapai 0.8 kg/kapita/tahun (Machmud, 2006).
c.       Dampak dari Ketidak Seimbangan Status Gizi
Berikut ini beberapa analisa risiko yang bisa terjadi:
1.      Menurunnya kemampuan belajar/berfikir
2.      Menurunnya pertumbuhan, kemampuan fisik dan ketahanan tubuh rentan
3.      Ancaman malnutrisi dan penyakit


d.      Langkah-langkah yang Harus Dilakukan Agar Masyarakat Mempunyai Gizi Seimbang
Penanggulangan kemiskinan membutuhkan upaya yang terus menerus karena kompleksnya permasalahan dan keterbatasan sumber daya. Karena itu harus melibatkan multi sektor dan lintas stakeholder terkait. Rendahnya kemampuan ekonomi sebuah rumah tangga sangat miskin (RTSM) membawa dampak pada buruknya kualitas nutrisi dan gizi, serta menyebabkan banyak anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pelajarannya di bangku sekolah. langkah sederhana dan mungkin dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, guna mendeteksi masalah       gizi agar tidak sampai terjadi pada diri kita dengan cara:
1.      Biasakan menimbang berat badan minimal satu bulan sekali, lebih biak lagi tiap minggu.
2.      Melakukan evaluasi yang telah kita makan satu hari --lebih baik tiga hari-dapat dilakukan dengan mencatat (food record), atau mengingat yang telah dimakan food recall.
3.      Makan secukupnya. Artinya: makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, makan dengan porsi kecil tapi sering lebih baik dibanding sekali makan dengan porsi banyak.












BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Dari makalah di atas dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      masalah sosial yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya status gizi masyarakat. Hal ini mudah dilihat, misalnya dari berbagai masalah gizi, seperti kurang gizi, anemia gizi besi, gangguan akibat kekurangan yodium, dan kurang vitamin A. Rendahnya status gizi jelas berdampak pada kualitas sumber daya manusia
2.      Konsumsi zat gizi yang rendah dalam keluarga juga dipengaruhi oleh produksi pangan.
3.      Konsumsi makanan yang rendah juga bias disebabkan oleh penyakit, terutama penyakit infeksi pada saluran pencernaan.
4.      Infornasi kesehatan dan pendididkan penting untuk meningkatkan pelayanan.
5.      Rendahnya status gizi berdampak pada kualitas sumber daya manusia.
6.      Banyak keluarga yang masih tidak peduli terhadap asupan kandungan gizi yang dikonsumsi oleh anak-anaknya.
7.      Tradisi minum teh telah menjadi kebudayaan besar dalam sejarah manusia, padahal Senyawa tanin dari teh yang berlebihan dalam darah akan mengganggu penyerapan zat besi.

3.2  SARAN
Status gizi masyarakat Indonesia yang buruk harus segera ditemukan jalan keluarnya. Tidak hanya pemerintah saja tetapi seluruh elemen masyarakat berkewajiban membantu sesama manusia yang mengalami gizi buruk. Agar permasalahan ini tidak menimbulkan gangguan dalam tatanan kehidupan bernegara.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.Pengaruh badan dan hormon.
Colby, S Diane. 1988. Ringkasan Biokimia Harper. EGC : Jakarta.
Harianto,Yudika. 2011. Oksidasi Asam Lemak.
Mulligan, K dkk.2009. The effects of recombinant human leptin on visceral fat,
dyslipidemia, and insulin resistance in patients with human immunodeficiency virus- associated lipoatrophy and hypoleptinemia. Journal of Clinical Endocrinology and  Metabolism 94(4): 1137-1144.
Poedjiadi,Anna DKK.2006.Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta:Universitas Indonesia
(UI-Press).
Sartika ,Ratu Ayu Dewi.2011.FAKTOR RISIKO OBESITAS PADA ANAK 5-15
TAHUN DI INDONESIA. Jurnal MAKARA, KESEHATAN.15:37-43.(journal.ui.ac.id)
Sukeksi ,Andri dan Herlisa Anggraini.(2009). Kadar Kolesterol Darah Pada
Penderita  Kelurahan KORPRI Sambiroto Semarang.Jurnal Kesehatan.2:26-29.(http ://J u rna I.  u n im us.ac.id.)
Bangun Bermila Emma, Zulhaida Lubis, Albiner Siagian. 2012.
“Perilaku Minum Teh Dan Kadar Hemoglobin (Hb) Pada Siswa-Siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Jorlang Hataran Desa Dolok Marlawan Kecamatan Jorlang Kabupaten Simalungun  Tahun 2012” dalam http://download.portalgaruda.org/article.php?article=51409&val=4108 akses tanggal 19 maret 2015
            mempengaruhi.html




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar