my music by Ron Pope

please send an instant message to me via yahoo!

Kamis, 18 Juni 2015

PENYAKIT SARAF



MAKALAH
ANATOMI FISIOLOGI




Jenis-Jenis Penyakit Saraf



 


Oleh:
Yandrawati
NPM. 12410018






PROGRAM STUDI SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2014/2015




KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah S.W.T karena berkat anugrah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul " Penyakit Saraf ", Yang  merupakan tugas mata kuliah Anatomi Fisiologi.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen pengampu dan semua pihak yang telah banyak mendukung penulis dalam penyusunan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan berguna bagi pembaca.









Bandar Lampung, Mei 2015



                                                                        Penulis




DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................           i
Daftar Isi..............................................................................................           ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................           1
1.1     Latar Belakang..................................................................           1
1.2     Rumusan Masalah.............................................................           1
1.3     Tujuan...............................................................................           1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................           2
2.1 Penyakit Alzheimer.............................................................           2
2.2 Penyakit Bell’s Palsy...........................................................           4
2.3 Penyakit Creutzfeldt-Jakob.................................................           6
2.4 Penyakit Epilepsi................................................................           7
2.5 Penyakit Hidrosefalus.........................................................           8
2.6 Kelumpuhan.......................................................................           10
2.7 Leukoensalofati Multifokal Progresif....................................           11
2.8 Lumpuh Otak.....................................................................           12
2.9 Trigeminal Neuralgia...........................................................           14
2.10 Penyakit Huntington..........................................................           15
2.11 Penyakit Minamata...........................................................           16
2.12 Penyakit Parkinson...........................................................           17
2.13 Penyakit Poliomielitis........................................................           19
2.14 Rabies..............................................................................           20
2.15 Radang Otak....................................................................           21
2.16 Sindrom Alice di Wonderland...........................................           22
2.17 Sindrom Kleine-Levin.......................................................           22
2.18 Sindrom Lorong Karpal....................................................           23
2.19 Sklerosis Multipel.............................................................           24
2.20 Meningitis.........................................................................           26
BAB III PENUTUP...........................................................................           29
3.1 Kesimpulan........................................................................           30
3.2 Saran.................................................................................           30
DAFTAR PUSTAKA
GAMBAR




BAB I
PENDAHULUAN

   1.1  Latar Belakang
Sistem Saraf adalah sistem organ pada makhluk hidup yang terdiri dari jutaan serabut saraf yang terdiri dari sel-sel saraf yang saling terhubung dan esensial untuk persepsi sensoris indra, involunter organ atau jaringan tubuh, aktivitas motorik volunter, dan homeostasis berbagai proses fisiologis tubuh pada makhluk hidup. Sistem saraf terdiri dari jaringan yang rumit dan paling penting karena terdiri dari jutaan sel saraf (neuron) yang saling terhubung dan vital untuk perkembangan bahasa, pikiran dan ingatan pada makhluk hidup terutama manusia.
Meski jaringan saraf dilindungi oleh tengkorak dan tulang yang keras, Gangguan Sistem Saraf pada Manusia tetap bisa terjadi dengan berbagai macam gejala serta dengan gangguan yang sangat beragam, tergantung jenis penyebabnya. Namun secara umum, penyebab gangguan pada sistem saraf bisa disebabkan karena benturan (trauma) benda-benda keras, paparan bahan kimia, toksikasi virus atau bakteri dan adanya radang yang disebabkan oleh regenerasi sel saraf itu sendiri. Dalam kaitannya dengan gajala dan penyebab diatas maka makalah ini akan membahas tentang kelainan sistem saraf pada manusia.
  1.2  Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini terdapat rumusan masalah yaitu:
1.      Apa yang dimaksud dengan Penyakit Saraf?
2.      Apa Penyebabnya?
3.      Bagaimana Gejalanya?
1.3 Tujuan
1.      Menambah pengetahuan tentang penyakit saraf.
2.      Mengetahui penyebab dan gejala penyakit saraf .
3.      Mengetahui macam-macam penyakit saraf manusia.
 





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Penyakit Alzheimer
a.       Definisi Azheimer
Penyakit alzheimer adalah hilangnya intelektual dan kemampuan bersosialisasi yang cukup parah untuk mempengaruhi aktivitas harian. Pada penyakit Alzheimer, kesehatan jaringan otak mengalami penurunan, menyebabkan menurunnya daya ingat dan kemampuan mental.
Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Alzheimer juga dikatakan sebagai penyakit yang sinonim dengan orang tua.
Alzheimer bukan merupakan bagian dari proses penuaan secara normal, akan tetapi risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Lima persen orang berusia di antara 65-74 tahun mengidap penyakit Alzheimer, dan hampir 50 persen orang yang berusia lebih dari 85 tahun memiliki penyakit Alzheimer. Meskipun penyakit ini tidak ada obatnya, perawatan dapat memperbaiki kualitas hidup pengidap Alzheimer. Mereka yang divonis Alzheimer membutuhkan dukungan dan kasih sayang dari teman dan keluarga untuk mengatasinya.
b.      Penyebab Azheimer
Tak satupun faktor yang muncul menjadi penyebab Alzheimer. Ilmuwan percaya bahwa penyakit ini merupakan kombinasi antara genetik, gaya hidup dan faktor lingkungan. Alzheimer merusak dan membunuh sel otak. Dua jenis kerusakan sel otak (neuron) yang biasa terjadi pada orang pengidap Alzheimer :
1.        Plaques / plak
Gumpalan protein yang disebut beta-amyloid mempengaruhi komunikasi antara sel-sel otak. Meskipun tidak diketahui ada kasus Alzheimer yang menyebabkan kematian, fakta menunjukkan bahwa proses yang tidak normal dari protein beta-amyloid kemungkinan menjadi penyebab.
2.        Tangles / kusut
Struktur pendukung dalam sel otak tergantung pada normalnya fungsi protein bernama tau. Pada orang dengan Alzheimer, benang protein tau mengalami perubahan yang menyebabkan mereka menjadi tidak waras. Banyak ilmuan percaya bahwa ini adalah kerusakan neuron dan dapat menyebabkan kematian bagi penderita Alzheimer.
c.       Gejala Penyakit Alzheimer
1.      Hilangnya ingatan
Setiap orang memiliki penyimpangan dalam ingatan. Adalah hal yang normal ketika anda lupa dimana anda menaruh kunci mobil atau lupa nama orang yang jarang anda lihat. Tetapi masalah ingatan yang berhubungan dengan Alzhaimer berlangsung lama dan buruk. Orang-orang dengan Alzhaimer mungkin:
1.        Mengulangi sesuatu yang telah dikerjakannya
2.         Sering lupa akan ucapan dan janji yang dilakukannya
3.        Sering salah menaruh sesuatu, sering menaruh sesuatu di tempat     yang tidak wajar
4.        Sering salah menaruh sesuatu, sering menaruh sesuatu di tempat     yang tidak wajar.
5.        Pada akhirnya lupa dengan nama anggota keluarga dan benda-benda yang biasa digunakan dalam kesehariannya
2.      Bermasalah ketika berpikir secara abstrak
Orang dengan Alzheimer bermasalah dalam berpikir mengenai suatu hal terutama dalam bentuk angka.
3.      Kesulitan dalam menemukan kata yang tepat
Sulit untuk orang dengan Alzhaimer untuk menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan pemikiran mereka atau ketika mereka terlibat pembicaraan. Pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis mereka.
4.      Disorientasi
Orang dengan Alzheimer sering hilang kemampuan untuk mengingat waktu dan tanggal, serta akan merasakan diri mereka hilang di lingkungan yang sebenarnya familiar bagi mereka.
5.      Hilang kemampuan dalam menilai
Menyelesaikan masalah sehari-hari merupakan hal yang sulit dan menjadi bertambah sulit sampai akhirnya adalah sesuatu yang dirasa tidak mungkin bagi mereka yang memiliki Alzheimer. Alzheimer memiliki karakteristik sangat sulit untuk melakukan sesuatu yang membutuhkan perencanaan, pengambilan keputusan dan penilaian.
6.      Sulit untuk melakukan tugas biasa
Sulit dalam melakukan tugas rutin yang membutuhkan langkah-langkah yang berkelanjutan dalam proses penyelesaiannya, contohnya memasak. Pada akhirnya, orang dengan Alzheimer dapat lupa bagaimana melakukan sesuatu bahkan yang paling mendasar.
7.      Perubahan kepribadian
Orang dengan Alzheimer menunjukkan:
a.         Perubahan suasana hati
b.        Hilang kepercayaan terhadap orang lain
c.         Meningkatnya sikap keras kepala
d.        Depresi, gelisah dan agresif
2.2    Penyakit Bell's Palsy
a.         Definisi Bell’s Palsy
Bell’s palsy adalah kelumpuhan atau kelemahan pada salah satu sisi otot di wajah yang bersifat sementara. Kondisi ini menyebabkan salah satu sisi dari wajah akan terlihat melorot. Meski belum dimengerti alasan sepenuhnya, Bell’s palsy lebih umum terjadi pada wanita hamil, penderita diabetes, dan HIV.
Saraf yang rusak pada bagian wajah akan berdampak kepada indera perasa dan cara tubuh Anda menghasilkan air mata dan ludah. Bell’s palsy datang secara tiba-tiba dan umumnya kondisi ini akan membaik dalam hitungan minggu. Bell’s palsy tidak berhubungan dan bukan terjadi karena stroke. Berikut ini beberapa kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya kelumpuhan Bell’s palsy pada wajah:
1.       Kelumpuhan wajah turunan. Kondisi ini terjadi pada anak yang terlahir dengan kelemahan atau kelumpuhan pada wajah.
2.       Cedera karena kecelakaan. Terjadi karena luka robek pada dagu atau retak pada tulang tengkorak.
3.       Cedera karena operasi. Kondisi ini umumnya terjadi saat operasi kelenjar parotid.
Pada kebanyakan kasus Bell’s palsy, kelumpuhan pada salah satu sisi wajah bisa pulih sepenuhnya. Jika Anda mengalami kelumpuhan di salah satu sisi wajah, segera temui dokter untuk memahami kondisi yang terjadi.
b.        Penyebab Terjadinya Bell’s Palsy
Hingga kini, belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan terjadinya Bell’s palsy. Kondisi ini dipercaya muncul ketika saraf yang mengendalikan otot pada wajah tertekan atau terganggu. Selain itu, kelumpuhan juga diduga disebabkan karena peradangan infeksi virus. Salah satu virus yang diperkirakan menyebabkan Bell’s palsy adalah virus herpes.
c.         Gejala Bell’s Palsy
Bell’s palsy memiliki gejala yang berbeda-beda pada sebagian orang. Kelumpuhan yang terjadi pada salah satu sisi wajah bisa dijelaskan sebagai kelumpuhan sebagian (kelemahan otot ringan) atau sebagai kelumpuhan total (tidak ada gerakan sama sekali, tapi jarang sekali terjadi). Mulut serta kelopak mata juga akan terpengaruh akibat Bell’s palsy, kedua bagian ini akan kesulitan untuk dibuka dan ditutup. Bell’s palsy adalah gangguan yang terjadi hanya pada otot dan saraf wajah. Kondisi ini tidak berdampak kepada kinerja otak atau bagian tubuh lainnya. Apabila kelumpuhan di salah satu sisi wajah Anda dibarengi dengan kelumpuhan atau kelemahan pada bagian tubuh lain, segera periksakan ke dokter.
2.3    Penyakit Creutzfeldt-Jakob
a.         Definisi Creutzfeldt-Jakob
Penyakit Creutzfeldt-Jakob (Ensefalopati Spongiform Subakut) adalah suatu kelainan otak yang ditandai dengan penurunan fungsi mental yang terjadi dengan cepat, disertai kelainan pergerakan. Penyakit ini terutama menyerang dewasa, diatas 50 tahun.
Penyakit yang mirip Creutzfeldt-Jakob terjadi pada domba (Skrepi) dan sapi (Penyakit Sapi Gila). Penularan infeksi bisa terjadi karena memakan jaringan hewan yang terinfeksi. Penularan antar binatang masih belum jelas dan kasus pada manusia terjadi jika memakan daging hewan yang terinfeksi.
b.         Penyebab Creutzfeldt-Jakob
Terjadi kerusakan jaringan otak oleh suatu organisme yang menyerupai virus (protein yang bisa ditularkan, yang disebut prion). Beberapa kasus terjadi pada dewasa yang menerima hormon pertumbuhan yang berasal dari kadaver (mayat yang diawetkan). Agen penyebabnya (prion) diduga telah ditularkan melalui hormon pertumbuhan (yang berasal dari kelenjar hipofisa kadaver). Resiko terkena penyakit ini sedikit meningkat pada orang-orang yang menjalani pembedahan otak.
c.         Gejala Creutzfeldt-Jakob
Beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terinfeksi, tidak timbul gejala. Secara perlahan, kerusakan otak bertambah dan penderita mengalami demensia (penurunan kemampuan intelektual). Pada awalnya, gejalanya mirip demensia lainnya, yaitu tidak peduli akan kebersihan badannya, apatis, mudah marah, pelupa dan bingung. Beberapa penderita merasakan mudah lelah, mengantuk, tidak bisa tidur atau kelainan tidur lainnya. Kemudian gejala-gejalanya dipercepat, biasanya jauh lebih cepat dari pada penyakit Alzheimer, sampai penderita betul-betul pikun.
Kedutan/kejang pada otot biasanya muncul dalam 6 bulan pertama setelah gejala dimulai. Gemetar, gerakan tubuh yang janggal dan aneh juga bisa terjadi dan penglihatan bisa kabur atau suram.
2.4    Penyakit Epilepsi
a.       Definisi Epilepsi
Epilepsi adalah suatu gangguan pada sistem saraf otak manusia karena terjadinya aktivitas yang berlebihan dari sekelompok sel neuron pada otak sehingga menyebabkan berbagai reaksi pada tubuh manusia mulai dari bengong sesaat, kesemutan, gangguan kesadaran, kejang-kejang dan atau kontraksi otot. Epilepsi atau yang sering kita sebut ayan atau sawan tidak disebabkan atau dipicu oleh bakteri atau virus dan gejala epilepsi dapat diredam dengan bantuan orang-orang yang ada disekitar penderita.
b.      Penyebab Ayan (Epilepsi)
Namun perlu diketahui bahwa Penyebab epilepsi atau ayan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu epilepsi idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) dan epilepsi simtomatik (yang diketahui penyebabnya) Untuk epilepsi simtomatik Dibwah ini ringkasan faktor penyebab penyakit ayan yang mendasari seseorang menderita penyakit ini:
1.       Pernah mengalami cedera atau luka di bagian kepala sehingga menyebabkan trauma otak.
2.       Adanya perubahan zat kimia dalam otak kita.
3.       Pernah mengalami gangguan fisik atau mental.
4.       Pada proses kelahiran, terjadi luka pada kehamilan.
5.       Faktor genetika namun bukan faktor keturunan.
6.       Bisa juga karena faktor lingkungan.
c.       Tanda-tanda dan Gejala Penyakit Ayan 
1.       Penderita mengalami kehilangan kesadaran dan kejang-kejang.
2.       Keadaan tidak sadar hanya dalam waktu yang singkat. Setelah itu, penderita segera mencapai kesadaran kembali.
3.       Sukar bernapas, mata kebiruan, dan keluar busa dari mulut.
4.       Takut melihat api
5.       Tenggelam pada saat berenang karena kejang ketika berenang
6.       Terjadi komplikasi pada saat kehamilan dan melahirkan. Pada saat kehamilan atau kelahiran, bisa saja sang ibu mengalami kejang dan ini berbahaya bagi bayi. Sementara perlu diakui pemberian obat bagi penderita epilepsi bisa meningkatkan resiko cacat janin.
7.       Setelah sadar , penderita mengalami sakit kepala dan nyeri otot.
2.5    Penyakit Hidrosefalus
a.         Definisi Hidrosefalus
Hidrosefalus adalah penyakit yang menyerang organ otak. Penderita hidrosefalus mengalami penumpukan cairan di dalam otak yang berakibat pada meningkatnya tekanan pada otak. Jika tidak segera ditangani, tekanan ini dapat merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak.
Hidrosefalus dapat dialami oleh orang-orang pada segala usia, namun umumnya penyakit ini diderita oleh bayi dan manula. Berdasarkan gejalanya, penyakit hidrosefalus dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu :
1.       Hidrosefalus kongenital.
Kondisi ini terjadi sejak bayi baru dilahirkan. Bayi yang mengalami hidrosefalus bawaan, kepalanya akan terlihat sangat besar. Ubun-ubun atau fontanel mereka akan tampak menggelembung dan menegang. Dikarenakan kulit kepala bayi masih tipis, maka penggelembungan tersebut membuat urat-urat kepala menjadi terlihat dengan jelas. Bayi-bayi dengan hidrosefalus, memiliki mata yang terlihat seperti memandang ke bawah dan otot-otot kaki terlihat kaku, serta rentan mengalami kejang. Gejala-gejala hidrosefalus bawaan lainnya adalah mudah mengantuk, mual, rewel, dan susah makan.
2.       Hidrosefalus yang didapat atau acquired.
Kondisi ini diderita oleh anak-anak dan orang dewasa. Selain penderita akan mengalami mual dan nyeri leher, nyeri kepala juga akan muncul. Nyeri kepala ini biasanya sangat terasa di pagi hari, setelah bangun tidur. Gejala lain dari hidrosefalus tipe ini adalah mengantuk, penglihatan buram, bingung, sulit menahan kemih atau menahan buang air besar, dan sulit berjalan. Jika tidak segera diobati, kondisi ini dapat menyebabkan koma, bahkan kematian.
3.       Hidrosefalus dengan tekanan normal.
Kondisi ini umumnya dialami oleh manula. Penderita akan kesulitan menggerakkan kaki, sehingga beberapa dari mereka terpaksa menyeret kaki agar dapat berjalan. Gejala lainnya adalah kacaunya kendali kemih yang ditandai dengan sulit menahan kencing atau sering merasa ingin kencing. Selain fisik, hidrosefalus tekanan normal juga berdampak kepada kemampuan berpikir penderita. Mereka akan sulit mencerna informasi dan lambat dalam menanggapi situasi atau pertanyaan.
b.         Penyebab hidrosefalus
Di dalam otak kita terdapat cairan yang dinamakan serebrospinal. Cairan ini berfungsi sebagai penyedia nutrisi yang dibutuhkan otak agar bisa terus bekerja dengan baik. Cairan ini juga berfungsi sebagai pembersih limbah yang berasal dari metabolisme otak, melindungi otak dari cedera, menjaga agar otak tetap mengapung pada posisinya, dan mencegah terjadinya perubahan tekanan pada otak.
Tiap harinya jaringan pelapis otak secara rutin memproduksi cairan serebrospinal. Cairan yang sudah tidak terpakai kemudian dibuang dari tubuh setelah diserap oleh pembuluh darah. Meski bermanfaat bagi kesehatan otak, cairan serebrospinal bisa menjadi bumerang dan berbalik merugikan otak. Kondisi ini terjadi jika jumlah cairan yang diproduksi lebih besar dibandingkan yang dibuang. Inilah yang disebut sebagai hidrosefalus, yaitu meningkatnya volume cairan serebrospinal di dalam otak. Beberapa pemicu terjadinya penyakit hidrosefalus antara lain:
·         Buruknya mekanisme penyerapan cairan akibat radang pada otak.
·         Terhambatnya aliran  serebrospinal akibat kelainan sistem saraf.
·         Infeksi janin saat masih di dalam kandungan yang menyebabkan radang pada jaringan otak janin.
·         Pendarahan di dalam otak, tumor otak,cedera parah di kepala.
·         Penyakit stroke.
2.6    Kelumpuhan
a.         Definisi Kelumpuhan
Kelumpuhan atau paralisis adalah hilangnya fungsi otot untuk satu atau banyak otot. Kelumpuhan dapat menyebabkan hilangnya perasaan atau hilangnya mobilitas di wilayah yang terpengaruh. Kelumpuhan sering disebabkan akibat kerusakan pada otak.
b.         Penyebab kelumpuhan
Kerusakan saraf yang dapat menyebabkan paralisis mungkin di dalam otak atau batang otak (pusat sistem saraf) atau mungkin di luar batang otak (sistem saraf perifer). Lebih sering penyebab kerusakan pada otak adalah  stroke, tumor, truma (disebabkan jatuh atau pukulan), multiple sclerosis (penyakit yang merusak bungkus pelindung yang menutupi sel saraf), serebral palsy (keadaan yang disebabkan injuri pada otak yang terjadi sesaat setelah lahir), gangguan metabolik (gangguan dalam penghambatan kemampuan tubuh untuk mempertahankannya).
Kerusakan pada batang otak lebih sering disebabkan trauma, seperti jatuh atau kecelakaan mobil. Kondisi lainnya yang dapat menyebabkan kerusakan saraf dalam atau dengan segera berdekatan pada tulang belakang termasuk : tumor, herniasi sendi ( juga disebut ruptur sendi ), spondilosis, rematoid artrirtis pada tulang belakang atau multiple sklerosis
Kerusakan pada saraf tepi mungkin disebabkan trauma, carpal tunel sindrom, Gullain Barre Syndrom, radiasi, toksin atau racun, CIDP, penyakit dimielinisasi.
c.         Tanda dan gejala
Distribusi paralisis memberikan syarat yang penting untuk bagian saraf yang rusak. Hemiplegia disebabkan kerusakan otak pada sisi berlawanan dengan paralysis, biasanya dari stroke. Paraplegia terjadi setelah injuri pada bagian bawah batang otak , dan quadriplegia terjadi setelah kerusakan bagian atas batang otak pada tingkat bahu atau lebih tinggi ( saraf yang mengontrol lengan sejajar tulang belakang ). Diplegia biasanya mengindikasikan kerusakan otak, lebih sering karena serebral palsy.  Monoplegia mungkin disebabkan pemisahan kerusakan diantara system saraf pusat atau saraf perifer. Kelemahan atau paralysis hanya dapat terjadi pada lengan dan kaki dapat mengindikasikan penyakit diemelinisasi.
Gejala berfluktuasi dalam membedakan bagian tubuh mungkin disebabkan multiple sclerosis. Kejadian paralysis lebih sering disebabkan injuri atau stroke. Penjalaran paralysis mengindikasikan penyakit degeneratif, penyakit infeski seperti GBS atau CIDP, gangguan metabolisme . Gejala lain yang sering menyertai paralisis termasuk mati rasa dan perasaan kesemutan, nyeri, perubahan penglihatan , kesulitan berbicara,atau masalah dengan keseimbangan.  Cedera pada batang otak sering menyebabkan menurunnya fungsi kandung kemih, BAB dan organ sex. Injuri diatas batang otak dapat menyebabkan kesulitan dalam bernafas
a.         Definisi Leukoensefalopati Multifokal Progresif
Leukoensefalopati Multifokal Progresif merupakan manifestasi yang jarang dari infeksi poliomavirus di otak yang sering berkembang dengan cepat pada saat menimbulkan gejala. Penyakit ini menyerang otak dan medulla spinalis. Sering terjadi pada penderita kelainan fungsi limfosit T (gangguan kekebalan), seperti pada leukemia, limfoma atau AIDS. Laki-laki lebih sering terkena.
b.         Penyebab LMP  adalah Virus JC (merupakan suatu virus polioma).
c.         Gejala Leukoensefalopati Multifokal Progresif
Banyak orang yang terinfeksi virus JC tidak menimbulkan gejala. Seperti halnya virus herpes, virus JC akan tampaknya berada dalam keadaan tidak aktif sampai terjadi sesuatu yang kembali mengaktifkannya (misalnya gangguan sistem kekebalan). Karena itu penyakit ini biasanya muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal.
Gejala bisa dimulai secara tiba-tiba atau bertahap. Sekali dimulai, gejala biasanya memburuk dengan cepat dan bervariasi tergantung bagian otak mana yang terkena. Sering terjadi kelumpuhan pada setengah badan. Sakit kepala dan kejang jarang terjadi. Penurunan kemampuan intelektual (demensia, pikun) ditemukan pada hampir 2/3 penderita. Bisa juga terjadi kesulitan dalam berbicara dan kebutaan parsial. Kematian sering terjadi dalam 1-6 bulan setelah gejala dimulai, tetapi beberapa penderita bertahan hidup.
2.8    Lumpuh Otak
a.       Definisi Lumpuh Otak
Lumpuh otak atau cerebral palsy merupakan suatu penyakit saraf yang mengganggu atau memengaruhi koordinasi dan pergerakan tubuh. Kondisi ini terjadi akibat adanya masalah pada bagian otak besar. Lumpuh otak merupakan salah satu penyebab paling umum kelumpuhan kronis pada anak-anak.
b.      Penyebab lumpuh otak
Adanya masalah pada bagian otak besar yang berfungsi mengatur gerakan, kemampuan mendengar, bicara, dan belajar merupakan penyebab terjadinya lumpuh otak. Masalah ini bisa terjadi sebelum atau sesudah bayi lahir, dan diduga dipicu oleh beberapa faktor berikut ini.
1.       Infeksi yang dialami oleh sang ibu di masa kehamilan yang dapat menular pada pada janin. Contohnya cacar, rubella, sifilis, infeksi parasit toksoplasmosis, dan infeksi virus sitomegalo.
2.       Terganggunya suplai darah yang berguna untuk perkembangan otak janin atau disebut juga sebagai stroke janin.
3.       Infeksi pada otak bayi setelah lahir, misalnya sakit kuning yang parah dan tidak bisa diobati, ensefalitis, atau meningitis.
4.       Cedera parah di kepala akibat terjatuh atau kecelakaan lainnya.
5.       Kurangnya suplai oksigen pada bayi selama proses kelahiran.
6.       Kelahiran prematur, yaitu pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu.
7.       Kelahiran sungsang.
8.       Kasus bayi kembar. Rahim yang diisi secara bersamaan oleh lebih dari satu bayi bisa menimbulkan masalah. Jika terjadi kematian pada salah satu bayi tersebut, maka ada peluang bagi bayi lainnya untuk terkena lumpuh otak.
9.       Berat badan bayi yang rendah saat lahir, yaitu kurang dari 2,5 kilogram.
10.    Perubahan pada gen yang memiliki peran dalam perkembangan otak.
c.       Gejala Lumpuh Otak
Tingkat keparahan gejala lumpuh otak berbeda-beda pada tiap penderitanya. Ada yang hanya mengalami gejala ringan, hingga berat. Biasanya gejala lumpuh otak akan mulai terlihat selama tiga tahun pertama kehidupan anak. Berikut ini adalah beberapa gejala lumpuh otak yang berkaitan dengan masalah koordinasi dan pergerakan tubuh.
a)       Masalah koordinasi otot.
b)       Otot kaku dengan refleks yang masih normal atau berlebihan.
c)       Tonus otot yang menjadi sangat kaku atau sangat lunglai.
d)       Gerakan menggeliat dan lambat.
e)       Gerakan yang tidak bisa dikendalikan atau tremor.
f)        Kesulitan dalam melakukan gerakan yang tepat, misalnya meletakkan suatu benda pada posisi tertentu.
g)       Salah satu sisi tubuh terlihat seperti tidak berfungsi, misalnya menyeret salah satu kaki saat merangkak, atau hanya bisa menggapai sesuatu dengan salah satu tangan.
h)       Kemampuan motorik bayi yang terhambat, misalnya merangkak atau duduk. Terhambatnya kemampuan bicara.
i)         Gaya berjalan yang tidak normal, misalnya berjalan agak jongkok, kaki menyilang, atau terbuka lebar-lebar.
j)        Kesulitan dalam makan atau menelan. Terus-menerus mengeluarkan air liur.
Bagian tubuh yang terkena dampak lumpuh otak bermacam-macam. Ada yang hanya mengenai salah satu sisi tubuh, bagian kaki saja, lengan saja, atau kaki sekaligus lengan. Selain masalah koordinasi dan gerakan tubuh, lumpuh otak juga dapat menyebabkan beberapa gejala gangguan saraf lain, di antaranya:
1.       Kejang-kejang, Cacat intelektual. Gangguan mental.
2.       Tidak dapat menahan air kencing atau inkonsistensi urine.
3.       Merasa sakit saat disentuh.
4.       Gangguan penglihatan dan pendengaran.
2.9    Trigeminal Neuralgia
a.         Definisi Trigeminal Neuralgia
Trigeminal neuralgia (Nyeri Wajah) ditandai oleh episode singkat nyeri wajah yang kuat, menusuk, seperti aliran listrik. Episode ini terjadi secara spontan atau dapat dipicu oleh sentuhan ringan, gerakan mengunyah, atau perubahan suhu (contohnya dingin).  Nyeri sangat singkat sehingga bisa melumpuhkan sama sekali. Sebagai tambahan, kehilangan berat badan adalah umum karena pemicu oral mencegah seseorang yang terkena makan cukup untuk menjaga nutrisi yang cukup. Bentuk yang kurang umum, disebut “Atipikal Trigeminal Neuralgia", mengakibatkan nyeri yang kurang singkat, konstan, rasa terbakar atau sakit yang membosankan, kadangkala dengan tusukan seperti aliran listrik.
b.         Penyebab Trigeminal Neuralgia
Penyebab kondisi ini adalah iritasi saraf cranial kelima (saraf Trigeminal) yang bertanggung jawab untuk memberikan sensasi wajah. Iritasi ini kadangkala disebabkan oleh tumor jinak atau sklerosis multiple, atau yang biasanya dapat dideteksi dengan MRI otak kualitas tinggi. Pada kasus-kasus besar, bagaimanapun juga, penggambaran otak tidak dapat menunjukkan penyebab iritasi saraf. Pada kasus demikian pembuluh kecil (biasanya arteri tetapi kadangkala vena) seringkali ditemukan saat operasi menekan akar zona masuk saraf Trigeminal pada batang otak.
c.         Gejala Trigeminal Neuralgia
Nyeri, yang dating dan pergi, terasa seperti ledakan tajam, menusuk, aliran listrik yang melibatkan pipi, hidung, bibir atas atau rahang. Pada hamper semua kasus (lebih dari 95%), nyeri terbatas pada satu sisi wajah Anda. Nyeri ini dapat bertahan dari beberapa detik hingga beberapa menit. Aktivitas harian umum seperti makan, minum atau menyikat gigi dapat membawa nyeri.
2.10     Penyakit Huntington
a.    Definisi Penyakit Huntington
 Penyakit Huntington (Huntington Disease) yang juga disebut korea huntington, korea herediter, korea progresif kronis, dan korea orang dewasa merupakan penyakit herediter saat degenerasi dalam korteks serebral dan ganglia basal menyebabkan korea progresif kronis (gerakan seperti menari) dan deteriosasi kognitif dan akhirnya mengekibatkan demensia. Penyakit Huntington biasanya menyerang orang berusia 25 sampai 55 tahun (rata-rata usia 35 tahun), 2% kasus menyerang anak-anak dan 5% menyerang orang berusia akhir 60 tahun, dan muncul pada pria sama banyaknya pada wanita. Penderita biasanya meninggal 10 sampai 15 tahun setelah serangan karena bunuh diri, gagal jantung atau pneumonia. Karena bersifat turun-temurun, penyakit huntington umum terjadi di area yang menjadi tempat tinggal keluarga yang telah hidup selama beberapa generasi. Pengujian genetik dilakukan pada orang yang diketahui memiliki riwayat penyakit ini dalam keluarganya.
b.         Penyebab Penyakit Huntington
Sifat dominan autosomal yang ditularkan dan diturunkan oleh pria maupu wanita dengan 50% resiko dimiliki oleh tiap anak dari salah satu orang tua yang menderita penyakit ini.
c.         Tanda dan Gejala Penyakit Huntington Manifestasi Neurologis
1.        Bradikinesia (gerakan lambat) yang disertai rigiditas tetapi tanpa disertai hilangnya kekuatan otot
2.        Gerakan koreik : cepat, biasanya kasar, tidak bermakna; awalnya unilateral dengan lebih banyak melibatkan wajah dan lengan daripada kaki; berkembang dari kegelisahan ringan menjadi menyeringai, mengecap-ngecapkan lidah, disartria (bicara tidak jelas), gerakan atetoid (kontraksi otot lambat dan terpelintir, terutama otot tangan) yang berkaitan dengan keadaan emosional dan tortikolis (kotraksi otot leher)
3.        Kombinasi korea, bradikinesia dan kekuatan otot normal yang menyebabkan terganggunya gerakan volunter dan involunter
4.        Disartria (serangan awal) : kemungkinan diperumit dengan perservasi (perulangan kata secara persisten), apraksia oral (kesulitan mengkoordinasi gerakan mulut) dan aprosody (ketidakmampuan mengeluarkan atau menterjemahkan nada bahasa secara akurat)
5.        Disfagia (sering terjadi pada stadium atas)
a.    Definisi Penyakit minamata
Penyakit minamata atau Sindrom minamata adalah sindrom kelainan fungsi saraf yang disebabkan oleh keracunan akut air raksa. Gejala-gejala sindrom ini seperti kesemutan pada kaki dan tangan, lemas-lemas, penyempitan sudut pandang dan degradasi kemampuan berbicara dan pendengaran. Pada tingkatan akut, gejala ini biasanya memburuk disertai dengan kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma dan akhirnya mati.
b.         Penyebab Penyakit minamata
Tahun 1959 merupakan tahun yang penting, baik bagi para penderita penyakit Minamata maupun terhadap riwayat penelitian dari penyakit tersebut. Merkuri, yang telah dicurigai sebagai penyebab sejak sekitar September 1958, mengundang lebih banyak perhatian lagi. Tanggal 19 Februari 1959, Tim Survei Penyakit Minamata/Keracunan Makanan dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan mengumumkan pentingnya penelitian terhadap distribusi merkuri pada Teluk Minamata. Tim ini dibentuk pada Januari 1959 sebagai tim penelitian di bawah Kementerian Kesehatan Masyarakat, semua anggotanya berasal dari Kelompok Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Kumamoto. Sebagai hasil survey tersebut, terungkap sebuah fakta yang mengejutkan. Disebutkan, kadar merkuri yang sangat tinggi dideteksi pada tubuh ikan, kerang-kerangan, dan lumpur dari Teluk Minamata yang dikumpulkan pada saat terjadinya penjangkitan Penyakit Minamata.
c.         Gejala Penyakit minamata
Gejala awal antara lain kaki dan tangan menjadi gemetar dan lemah, kelelahan, telinga berdengung, kemampuan penglihatan melemah, kehilangan pendengaran, bicara cadel dan gerakan menjadi tidak terkendali. Beberapa penderita berat penyakit Minamata menjadi gila, tidak sadarkan diri dan meninggal setelah sebulan menderita penyakit ini. Penderita kronis penyakit ini mengalami gejala seperti sakit kepala, sering kelelahan, kehilangan indra perasa dan penciuman, dan menjadi pelupa. Meskipun gejala ini tidak terlihat jelas tetapi sangat mengganggu kehidupan sehari-hari. Selain itu yang lebih parah adalah penderita congenital yaitu bayi yang lahir cacat karena menyerap metil merkuri dalam rahim ibunya yang banyak mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi metil merkuri. Ibu yang mengandung tidak terserang penyakit Minamata karena metil merkuri yang masuk ke tubuh ibu akan terakumulasi dalam plasenta dan diserap oleh janin dalam kandungannya.
2.12     Penyakit Parkinson
a.         Definisi Penyakit Parkinson
Penyakit Parkinson adalah degenerasi sel saraf secara bertahap pada otak bagian tengah yang berfungsi mengatur pergerakan tubuh. Gejala yang banyak diketahui orang dari penyakit Parkinson adalah terjadinya tremor atau gemetaran. Tapi gejala-gejala penyakit Parkinson pada tahap awal sulit dikenali, misalnya:
·         Merasa lemah atau terasa lebih kaku pada sebagian tubuh.
·         Gemetaran halus pada salah satu tangan saat beristirahat.
Setelah gejala awal di atas, maka akan muncul gejala-gejala yang akan dialami oleh penderita penyakit Parkinson:
·         Tremor makin parah dan menyebar.
·         Otot terasa kaku dan tidak fleksibel.
·         Pergerakan menjadi lambat.
·         Berkurangnya keseimbangan dan juga koordinasi tubuh.
b.         Penyebab Penyakit Parkinson
Penyebab menurunnya dopamine ini masih belum diketahui. Tapi terdapat beberapa faktor yang bisa memicu hal ini, seperti faktor keturunan dan faktor lingkungan.
c.         Gejala Penyakit Parkinson
Penderita penyakit ini juga bisa mengalami gejala fisik dan psikologis lain seperti depresi, konstipasi, sulit tidur atau insomnia, kehilangan indera penciuman atau anosmia, bahkan muncul masalah daya ingat. Penyakit Parkinson memengaruhi bagian kecil dari otak tengah yang bernama susbstantia nigra. Fungsi dari substantia nigra adalah mengirim pesan ke saraf-saraf di saraf tulang belakang yang mengendalikan otot-otot pada tubuh. Pesan dikirimkan dari sel otak, ke saraf dan otot dengan memanfaatkan senyawa kimia yang disebut neurotransmiter. Salah satu neurotransmiter utama yang dihasilkan oleh sel otak di substantia nigra adalah dopamine. Pengaturan gerakan dari tubuh sangat dipengaruhi oleh dopamine. Saat jumlah dopamine menurun akan menyebabkan aktivitas otak akan terganggu. Inilah yang menyebabkan munculnya tanda-tanda dan gejala penyakit Parkinson


2.13     Penyakit Poliomielitis
a.    Definisi Polio atau poliomyelitis
Polio atau poliomyelitis adalah penyakit virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf. Pada kondisi penyakit yang bertambah parah, bisa menyebabkan kesulitan bernapas, kelumpuhan, dan pada sebagian kasus menyebabkan kematian. Sejak awal tahun 2014, WHO (World Health Organization) telah menyatakan Indonesia sebagai salah satu negara yang bebas dari penyakit ini berkat program vaksinasi polio yang luas.
b.    Kondisi yang Bisa Menyebabkan Polio
Penyakit polio disebabkan oleh virus yang umumnya masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan tinja dan virus polio. Sama halnya seperti cacar, polio hanya menjangkiti manusia. Dalam tubuh manusia, virus polio menjangkiti tenggorokan dan usus. Selain melalui kotoran, virus polio juga bisa menyebar melalui tetesan cairan yang keluar saat penderitanya batuk atau bersin.
Imunisasi atau pemberian vaksin polio dapat meminimalisasi terjangkit virus polio. Anak-anak, wanita hamil dan orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, sangat rentan terkena virus polio jika di daerah mereka tidak terdapat program imunisasi atau tidak memiliki sistem sanitasi yang bersih dan baik. Orang-orang yang belum divaksinasi akan memiliki tingkat risiko terjangkit polio yang tinggi jika melakukan atau mengalami hal-hal seperti berikut ini:
1)       Tinggal serumah dengan penderita polio.
2)       Sistem kekebalan tubuh yang menurun.
3)       Bepergian ke daerah di mana polio masih kerap terjadi.
4)       Telah melakukan operasi pengangkatan amandel.
c.         Gejala Penyakit Polio
Kebanyakan penderita polio tidak menyadari bahwa diri mereka terinfeksi karena virus polio pada awalnya hanya menimbulkan sedikit gejala atau bahkan tidak sama sekali, dan tidak membuat mereka menjadi sakit. Penderita polio dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu polio non-paralisis, polio paralisis, dan sindrom pasca-polio.
2.14 Rabies
a.         Definisi Rabies
Rabies atau umumnya dikenal sebagai penyakit “anjing gila”, merupakan penyakit serius yang menyerang otak dan sistem saraf. Penyakit ini digolongkan sebagai penyakit mematikan yang harus ditangani dengan cepat.
b.         Penyebab Rabies
Rabies disebabkan oleh virus lyssaviruses. Virus ini ditularkan pada manusia melalui hewan yang sebelumnya telah terjangkit penyakit ini juga. Seseorang dapat terjangkit rabies jika air liur dari hewan rabies tersebut masuk ke dalam tubuhnya lewat gigitan, Bahkan lewat cakaran pun bisa jika hewan rabies tersebut sebelumnya telah menjilati kuku-kukunya. Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, seseorang terjangkit rabies karena luka di tubuhnya terjilat oleh hewan yang terinfeksi.
Apakah semua manusia yang digigit hewan yang terinfeksi dapat terjangkit rabies? Jawabannya adalah tidak. Manusia yang telah divaksinasi rabies akan kebal terhadap virus tersebut. Secara teori, penularan rabies dari manusia ke manusia pun bisa terjadi. Namun pada kasus seperti itu, sejauh ini yang terbukti adalah penularan melalui transplantasi atau pencangkokan organ.
c.         Beberapa gejala rabies
Inkubasi virus rabies untuk masuk ke dalam tahapan gejala bisa saja memakan waktu cukup lama, tapi ketika gejala sudah dimulai dan memasuki fase akhir, pengidapnya dapat mengalami kematian. Masa inkubasi adalah jarak waktu antara virus pertama masuk ke dalam tubuh sampai gejala pertama muncul. Gejala rabies pada manusia diantaranya adalah demam tinggi, rasa gatal di bagian yang terinfeksi, perilaku agresif, dan takut terhadap air atau dikenal dengan hidrofobia. Gejala rabies yang terlihat pada hewan, hampir serupa dengan gejala yang berkembang pada manusia, kecuali hidrofobia.
2.15     Radang otak
a.         Definisi Radang Otak
Radang otak adalah inflamasi yang terjadi pada otak. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, tapi anak-anak serta lansia memiliki risiko tertinggi karena sistem kekebalan tubuh mereka yang cenderung lebih lemah.
b.         Penyebab Radang Otak
Sebagian besar kasus radang otak, penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Namun, berbagai jenis infeksi juga dapat menyebabkan radang otak, terutama infeksi virus. Jenis-jenis radang otak ditentukan berdasarkan penyebabnya. Pemicu tersebut umumnya meliputi:
·         Infeksi yang terjadi secara langsung dalam otak.
·         Reaksi sistem kekebalan tubuh akibat infeksi lain, misalnya karena campak, rubella, atau bahkan HIV. Radang otak terjadi akibat sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan otak.
·         Komplikasi dari infeksi virus, misalnya virus herpes simpleks, virus varisela zoster, atau virus Epstein-Barr.
·         Virus dari hewan, misalnya virus rabies serta virus yang disebarkan oleh nyamuk dan caplak.
Para pakar menduga bahwa penyebaran infeksi ke dalam otak dapat melalui aliran darah serta saraf.
c.         Gejala-gejala Radang Otak
Radang otak umumnya diawali dengan gejala-gejala ringan, seperti sakit kepala, lelah, demam, serta pegal-pegal. Kondisi penderita kemudian dapat menurun secara drastis dengan indikasi-indikasi yang lebih serius yang meliputi:
1.       Kejang-kejang
2.       Perubahan kondisi mental, seperti linglung.
3.       Halusinasi, Otot yang lemas.
4.       Kelumpuhan pada wajah serta bagian tubuh tertentu.
5.       Gangguan pada kemampuan bicara atau pendengaran.
6.       Pingsan, Leher yang kaku.
7.       Pandangan kabur atau bahkan kehilangan penglihatan.
Gejala awal penyakit ini cenderung mirip dengan indikasi flu sehingga sulit dideteksi. Karena itu, segeralah ke rumah sakit jika Anda atau anak Anda mengalami gejala flu yang makin parah dan yang disertai dengan perubahan kondisi mental.
a.    Definisi Alice in Wonderland Syndrome
Alice in Wonderland Syndrome adalah suatu kondisi disorientasi yang mempengaruhi persepsi seseorang. AIWS adalah gangguan neurologis yang mengganggu sinyal yang dikirim dari mata ke otak, sehingga menyebabkan distorsi berikutnya dalam persepsi. Pasien mengeluh penglihatan, pendengaran dan halusinasi taktil dan persepsi diubah. Alice in Wonderland Syndrome dapat membingungkan dan menakutkan bagi pasien, karena ia merasa dia akan gila di dunia yang aneh dengan persepsi menyesatkan dan halusinasi.
b.         Penyebabkan Alice in Wonderland Syndrome
Fakta-fakta tentang Alice in Wonderland Syndrome masih cukup ambigu, sebenarnya, tidak banyak dokter tahu tentang gangguan. Faktor yang paling umum terkait dengan AIWS adalah:
1.        migrain Khas (aura, derangements visual, hemi-tengkorak kepala, mual dan muntah) merupakan penyebab penting dan fitur yang terkait dari AIWS.
2.        epilepsi lobus temporal merupakan faktor penyebab.
3.        Tumor otak dapat memicu AIWS sementara.
4.        Menggunakan obat-obatan psikoaktif
5.        Epstein Barr infeksi virus ini terkait dengan manifestasi dari Alice in Wonderland Syndrome.
6.        Alice in Wonderland Syndrome relatif umum pada anak-anak.
7.        Beberapa ahli mengatakan, AIWS merupakan kejadian umum dengan beberapa orang saat onset tidur.
c.         Tanda dan Gejala Alice in Wonderland Syndrome
Gejala utama dari Alice in Wonderland Syndrome adalah citra tubuh berubah. Orang mengamati ukuran bagian tubuh salah. Lebih sering daripada tidak, kepala dan tangan tampak tidak proporsional, dan pada umumnya, orang memandang pertumbuhan berbagai bagian daripada pengurangan ukuran mereka.
Gejala lain yang paling signifikan dari Alice in Wonderland Syndrome adalah bahwa pasien merasakan ukuran berbagai objek lainnya tidak tepat.
1.    Gejala dari Alice in Wonderland Syndrome adalah migrain.
2.    Individu kehilangan rasa waktu. Baginya, waktu tampaknya berlalu dengan  cepat.
3.    Beberapa orang mengalami halusinasi yang kuat, mereka dapat memvisualisasikan hal-hal yang tidak ada dan juga bisa mendapatkan kesan yang salah tentang situasi dan kejadian tertentu.
2.17     Sindrom Kleine-Levin
a.    Definisi Sindrom Kleine-Levin
Sindrom Kleine-Levin (Kleine-Levin Syndrome disingkat KLS) adalah penyakit saraf yang langka dimana penderita tidak bisa mengontrol rasa kantuknya. Penderita bisa tertidur selama berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan, tergantung pada berapa lama penyakit itu muncul dan kambuh. Kleine-Levin sindrom ini pertama kali diberi nama dan dilaporkan secara ilmiah oleh Willi Kleine dan Max Levin pada tahun 1925.  Sindrom ini pertama kali ditemukan oleh dokter Prancis Pierre Edmé Chauvot de Beauchèmoda  pada tahun 1786.
b.         Penyebab Sindrom Kleine-Levin
Para ahli belum dapat mengungkap penyebab kelainan ini, meski penyakit ini diduga berkaitan dengan gangguan fungsi hipotalamus, bagian otak yang mengatur selera makan dan tidur. Kelainan ini lebih banyak dialami pria ketimbang wanita dan biasanya dapat hilang ketika menginjak dewasa. Beberapa peneliti berspekulasi bahwa mungkin ada kecenderungan kemunculan penyakit ini adalah akibat faktor turun-temurun, yang lain percaya bahwa kondisi ini adalah hasil dari gangguan autoimun. Hipersomnia adalah gejala awal dimana kasus syndrome KLS ini mulai muncul.
c.         Gejala Sindrom Kleine-Levin
Gejala yang dialami  penderita saat itu banyak diam dan terus-menerus mengeluh kepalanya terasa aneh dan merasa tak enak badan.  Setelah itu penderita terus tertidur, menolak meninggalkan tempat tidur selama 25 hari. Setiap hari hampir tak makan dan minum, tertidur 23 jam sehari. Waktu satu jam bangun hanya digunakan untuk makan dan minum sebentar kemudian tidur lagi. Penderita mengalami hipersensitif rangsangan sensoris atau peka terhadap  suara bising dan cahaya. Wajahnya bagai kaca, tanpa ekspresi, kaku dan mudah marah. Dia banyak bicara, ekspresif, emosional.
Pada suatu ketika penderita tersebut mengalami kekambuhan lagi kembali tertidur lama. Ia hanya bangun beberapa jam sehari dan merasa ketakutan tiap kali bangun. Tingkahnya seperti anak berusia 4 tahun, memeluk boneka Teddy-nya, menghisap jari, dan menangis, mengira ia bakal mati.  Episode tidur panjang terus berulang. Dan meski berhasil masuk universitas, prestasi akademiknya di bawah harapan. Dalam episode tidur panjangnya, penderita terjebak dalam horor kadang disertai mimpi menakutkan. Kadang juga, terjadi segala sesuatu nampak membingungkan. Otaknya tidak dapat memproses informasi. Ketika tidur, mimpinya terasa nyata. Sebaliknya, ketika terjaga ia merasa berhalusinasi dan tidak terasa nyata.
2.18     Sindrom Lorong Karpal
a.    Definisi Terowongan atau lorong karpal
Terowongan atau lorong karpal adalah saluran sempit yang melalui tulang pergelangan tangan dan melindungi saraf utama serta tendon pada tangan. Ketika jaringan pada saluran tersebut mengalami pembengkakan (inflamasi), jaringan tersebut menekan saraf yang terhubung dengan ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis.
b.    Penyebab Terowongan atau lorong karpal
Terjadinya sindrom lorong karpal (carpal tunnel syndrome). Jika kondisi ini tidak ditangani, kerusakan saraf dan otot permanen dapat terjadi. Sejumlah faktor berperan dalam terjadinya sindrom ini. Faktor penyebab ini meliputi berbagai pekerjaan, aktivitas, dan hobi yang berhubungan dengan posisi pergelangan tangan. Faktor genetik atau keturunan serta masalah kesehatan tertentu seperti diabetes, obesitas , penyakit tiroid, dan artritis juga berperan.
c.    Gejala Terowongan atau lorong karpal
Sindrom lorong karpal biasanya secara bertahap diawali dengan kebas atau mati rasa dan kesemutan pada ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah yang bisa kambuh kapan saja. Gejala ini bisa jadi mengakibatkan ketidaknyamanan pada pergelangan tangan dan tangan Anda. Sedangkan untuk gejala umum sindrom lorong karpal bisa diringkaskan sebagai berikut:
1.       Kesemutan atau kebas yang timbul pada setiap jari tangan kecuali jari kelingking. Sensasi ini seringkali terjadi ketika Anda sedang mengemudi, memegang telepon atau koran, dan saat terbangun dari tidur.
2.       Nyeri menyebar dari pergelangan tangan sampai ke lengan, kemudian menuju bahu. Rasa nyeri bisa juga terasa di telapak tangan atau jari tangan. Tangan terasa lemah dan cenderung menjatuhkan benda saat memegangnya.



2.19     Sklerosis Multipel (MS)
a.    Definisi MS
MS adalah salah satu penyakit sistem saraf pusat (otak dan jaringan saraf sum-sum tulang belakang) akibat kerusakan myelin. Myelin adalah materi yang melindungi saraf, berfungsi seperti lapisan pelindung pada kabel listrik dan memudahkan saraf untuk mengirim impulsnya dengan cepat. Kecepatan dan efisiensi pengiriman impuls inilah yang memungkinkan sebuah gerakan tubuh yang halus, cepat,dan terkoordinasi dilakukan hanya dengan sedikit upaya. Pada MS, kerusakan myelin (demyelinasi) menyebabkan gangguan kemampuan serabut saraf untuk menghantarkan ‘pesan’ ke dan dari otak. Lokasi terjadinya kerusakan myelin (plak atau lesi) tampak seperti area (parut/luka) yang mengeras: pada MS, parut-parut/luka-luka ini tampak pada otak dan tulang belakang.
b.    Penyebab MS
Penyebab MS belum diketahui, saat ini seluruh dunia masih melakukan penelitian untuk mencari penyebab pasti penyakit MS. Kerusakan myelin pada MS mungkin terjadi akibat respon abnormal dari sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi tubuh dari serangan organisma berbahaya (bakteri dan virus). Banyak jenis MS yang menampakkan gejala penyakit ‘kekebalan tubuh’, dimana tubuh menyerang sel-sel dan jaringan-jaringannya sendiri (dalam kasus MS, yang diserang adalah Myelin). Para peneliti belum mengetahui apa yang memicu sistem kekebalan tubuh tersebut menyerang myelin, tetapi ada satu pemikiran bahwa hal tersebut terjadi karena beberapa faktor. Satu teori menyebutkan bahwa virus, yang mungkin sudah menetap lama dalam tubuh, mungkin memainkan peranan penting dalam perkembangan penyakit ini dan mungkin mengganggu sistem kekebalan atau secara tidak langsung mengubah proses sistem kekebalan tubuh. Banyak penelitian yang sudah mencoba mengidentifikasi virus MS. Ada satu dugaan bahwa kemungkinan tidak ada virus MS, melainkan hanya ada virus-virus biasa, seperti virus campak dan herpes, yang menjadi pemicu timbulnya penyakit MS. Virus-virus ini mengaktifkan sel darah putih (limposit) dalam aliran darah menuju ke otak dengan melemahkan mekanisme pertahanan otak (yaitu substansi yang melindungi darah/otak). Kemudian, di dalam otak, sel-sel ini mengaktifkan unsur-unsur lain dari sistem kekebalan tubuh dengan satu cara yang pada akhirnya membuat sel-sel tersebut menyerang dan menghancurkan myelin.
c.    Gejala-gejala MS
Multiple sclerosis memiliki kondisi yang sangat variabel dan gejala-gejalanya bergantung pada area sistem saraf pusat yang terserang. Tidak ada pola khusus pada MS dan setiap penderita MS memiliki kekhasan gejalanya sendiri-sendiri, yang bentuknya dari waktu ke waktu bervariasi dan tingkat keparahan serta jangka waktunya pun dapat berubah, dan semua variasi dan perubahan itu dapat terjadi bahkan pada penderita yang sama.
Tidak ada MS yang tipikal. Kebanyakan penderita MS akan mengalami lebih dari satu gejala, tetapi meskipun ada gejala-gejala umum yang diderita banyak orang, tidak ada seorangpun yang memiliki semua gejala tersebut sekaligus. Gejala-gejala umum tersebut adalah:
a.         Gangguan Penglihatan
1.      Penglihatan kabur, membayang (diplopia), Neuritis optikal
2.      Pergerakan mata yang tak terkontrol, kebutaan (sangat jarang terjadi)
b.        Gangguan Keseimbangan dan Koordinasi
1.       hilang keseimbangan tubuh, Gemetar (tremor)
2.       ketidakstabilan kemampuan berjalan (ataksia)
3.       pusing (vertigo), kekakuan anggota tubuh
4.       gangguan koordinasi
5.       perasaan lemah, pada kasus tertentu hal ini dapat mempengaruhi kaki dan kemampuan berjalan
8.       Kekakuan (spasticity)
kekakuan otot yang dapat mempengaruhi mobilitas dan cara berjalan dan kejang
9.       Gangguan indra perasa
1.       perasaan geli di beberapa bagian tubuh
2.       perasaan seperti di tusuk-tusuk jarum
3.       kebas (paraesthesia), perasaan seperti terbakar
4.       rasa nyeri dapat menyertai penyakit MS, contohnya, nyeri di wajah (seperti trigeminal neuralgia), dan nyeri otot
10.    Gangguan kemampuan berbicara
1.       perlambatan cara berbicara & berbicara seperti menggumam
2.       perubahan ritme berbicara & sulit menelan (dysphagia)
11.    Keletihan berlebihan
Perasaan lemah dan letih yang datang tidak terduga dan tidak sebanding  dengan aktivitas yang sedang dikerjakan. Keletihan berlebihan adalah gejala penyakit MS yang paling umum (dan yang paling menyusahkan).
12.    Gangguan kandung kemih dan usus
1.       Gangguan kandung kemih meliputi: sering buang air kecil, tidak dapat buang air kecil secara tuntas / tidak bisa menahan air kecil.
2.       Gangguan usus meliputi: konstipasi/sembelit, dan kadang diare.
13.    Gangguan Seksual
1.       Impoten & Berkurangnya kemampuan seksual
2.       kehilangan gairah
14.    Sensitivitas terhadap Panas
perburukan gejala-gejala yang dialami karena udara panas
15.    Gangguan Kognitif dan Emosi
1.       kehilangan memori jangka pendek
2.       kehilangan kemampuan konsentrasi, penilaian, penalaran
Lain dengan gejala-gejala yang jelas terlihat dengan segera, gejala yang lain seperti keletihan (fatigue), gangguan indra perasa, gangguan memori dan konsentrasi sering menjadi gejala yang tersembunyi. Gejala seperti ini mungkin sulit untuk dijelaskan kepada orang lain dan kadang-kadang keluarga dan perawat tidak dapat memahami efeknya terhadap pekerjaan, aktivitas sosial, dan  kualitas hidup penderita MS.
2.20     Meningitis 
§  Definisi Meningitis
 Radang pada membran pelindung yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang, yang secara kesatuan disebut meningen. Radang dapat disebabkan oleh infeksi oleh virusbakteri, atau juga mikroorganisme lain, dan walaupun jarang dapat disebabkan oleh obat tertentu. 
§  Penyebab Meningitis
Meningitis dapat menyebabkan kematian karena radang yang terjadi di otak dan sumsum tulang belakang; sehingga kondisi ini diklasifikasikan sebagai kedaruratan medik
§  Gejala Meningitis
Gejala umum dari meningitis adalah sakit kepala dan leher kaku disertai oleh demamkebingungan atau perubahan kesadaran, muntah, dan kepekaan terhadap cahaya (fotofobia) atau suara keras (fonofobia). Anak-anak biasanya hanya menunjukkan gejala nonspesifik, seperti lekas marah dan mengantuk. Adanya ruam merah dapat memberikan petunjuk penyebab dari meningitis; contohnya, meningitis yang disebabkan oleh bakteri meningokokus dapat ditunjukkan oleh adanya ruam merah.







BAB III
PENUTUP

1.1    Kesimpulan
       Sistem saraf adalah sistem organ pada makhluk hidup yang terdiri dari jutaan serabut saraf yang terdiri dari sel-sel saraf yang saling terhubung dan esensial untuk persepsi sensoris indra, jaringan tubuh, aktivitas motorik volunter, dan homeostasis berbagai proses fisiologis tubuh pada makhluk hidup.
       Gangguan pada sistem saraf akan mengakibatkan berbagai penyakit. Dari penyakit saraf yang ringan hingga penyakit yang sangat serius. Jika sistem saraf berfungsi dengan baik maka aktifitas berjalan dengan normal. Kinerja saraf yang normal juga menunjang kegiatan yang berhubungan dengan kejiwaan atau mental seperti memahami, mengingat dan menyikapi kenyataan.
       Jika Terjadi gangguan pada sistem saraf bisa berakibat sangat serius. Penderita penyakit yang berhubungan dengan sistem saraf biasanya akan mengalami malfungsi atau cacat, bahkan kematian. Selain masalah fisik, penderita gangguan sistem saraf juga akan mengalami masalah kejiwaan, Jika tidak ditangani dengan benar dan akurat, jenis-jenis penyakit mental ini akan menyebabkan penderitanya bermasalah dalam menjalani hidup.
1.2     Saran
            Langkah untuk terhindar dari gangguan pada sistem saraf adalah dengan cara memiliki pengetahuan yang cukup tentang sistem saraf dan penyakit-penyakit yang bisa menyerang otak dan sistem saraf ini. Dengan pengetahuan yang cukup kita dapat mencegah macam-macam penyakit pada sistem saraf dengan benar.
            Jika sudah terkena penyakit saraf segera lakukan pemeriksaan agar dapat diketahui jenis penyakit yang dialami. Sehingga dapat dilakukan cara pemilihan pengobatannaya yang tepat sesuai dengan jenis penyakit saraf yang diderita.





DAFTAR PUSTAKA
Harjana, D.(2013). Gejala Alzheimer, Penyebab, Faktor Risiko dan

Gondam.(2014).Pengertian, Jenis/Macam, dan Pengobatan Penyakit

Epilepsi (Ayan/Sawan) [Online]. Tersedia:

Shehoo (2014). Tanda Dan Gejala Penyakit Ayan , Epilepsi ,Sawan.

[Online].Tersedia: http://www.cara-wanita.com/2013/04/tanda-dan-gejala penyakit-ayan-epilepsi.html [21 Mei 2015].

Paramitasari,D. (2015). Pengertian Hidrosefalus.[Online].Tersedia:

http://www.alodokter.com/hidrosefalus [21 Mei 2015].

Hardin,R.(2014) [Online].Tersedia: http://www.news-medical.net/health/What

Causes-Paralysis-%28Indonesian%29.aspx [21 Mei 2015].

Phanggestu Debby. (2015). Pengertian Lumpuh Otak. [Online].Tersedia:

http://www.alodokter.com/lumpuh-otak [21 Mei 2015].

Anwara Fitria. (2013). Penyakit penyakit yang menyerang syaraf .

[Online].Tersedia:http://fitriaanwarawatissite.blogspot.com/2013/09/penyakit-penyakit-yang-menyerang-syaraf.html [21 Mei 2015].

Wulandari Devi. (2014). Kelainan, Teknologi, Dan Gaya Hidup
Sehat Pada Sistem Koordinasi. [Online].Tersedia: http://darideviwulan.blogspot.com/2014/05/kelainan-teknologi-dan-gaya-hidup-sehat_8842.html [21 Mei 2015].

Devi.(2014). Penyebab Leukoensefalopati Multifokal Progresif.

[Online].Tersedia: http://www.spesialis.info/?penyebab-leukoensefalopati-multifokal-progresif,276 [21 Mei 2015].

Bernato David. (2012). Tragedi Minamata. [Online].Tersedia:

http://davidbernato.blogspot.com/2012/12/tragedi-minamata.html [21 Mei 2015].

Permatadewi, T. (2015). Penyakit Parkinson. [Online].Tersedia:

http://www.alodokter.com/penyakit-parkinson [21 Mei 2015].

Capriyanti, Y. (2015). Polio. [Online].Tersedia: http://www.alodokter.com/polio
[21 Mei 2015].
Capriyanti, Y. (2015). Rabies. [Online].Tersedia:http://www.alodokter.com/rabies
[21 Mei 2015].
Capriyanti, Y. (2015). Radang Otak. [Online].Tersedia:

Nikki. (2010). Syndrom. [Online].Tersedia:

http://prianaliskesehatan.blogspot.com/2011/01/syndrom.html [21 Mei 2015].

Khalida, Q. (2012). Sindrom Kleine-Levin (Sindrom Putri Tidur). [Online].

Tersedia: http://sindromputri.blogspot.com/ [21 Mei 2015].

 

 

Deherba. (2015). Sindrom Lorong Karpal—Saat Pergelangan Tangan

Bermasalah! . [Online].Tersedia: https://www.deherba.com/sindrom-lorong-karpal-saat-pergelangan-tangan-bermasalah.html [21 Mei 2015].

Puspokusumo, K. (2012) Multipel Sklerosis Indonesia. [Online].Tersedia:
Ernadus, V. (2014). Penyakit Saraf pada Manusia. [Online].Tersedia:


 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar